|
Figur Wayang

Sakuni sedang
memainkan dadu di depan Yudhisthira (karya Herjaka HS)
Banjaran Cerita Pandhawa (36)
Pandhawa Dadu
Prabu Duryodana raja
Ngastina duduk di atas singhasana dihadap oleh Patih Sakuni dan
warga Korawa. Raja memperbincangkan rencana permainan dadu dengan
para Pandhawa. Patih Sakuni memberi petunjuk rencana permainan dadu
kepada raja dan warga Korawa. Kemudian raja meningalkan perundingan,
masuk istana. Raja disambut oleh permaisuri dan putri raja,
Lesmanawati. Kemudian raja bersamadi.
Patih Sakuni dan para Korawa
menanti raja, mereka akan ke Balai Kencana, menyambut kedatangan
para Pandhawa. Setelah raja keluar dari istana, mereka berangkat
naik kereta.
Prabu Jayalengkara raja
Parang Gumiwang duduk di atas singhasana, dihadap oleh Patih
Jayahandaya dan Ditya Jayapracandha. Raja berkata, demi kebahagiaan
negara dan rakyat, Prabu Darmakusuma yang menjadi sarana untuk
tinggal di kerajaan. Maka raja mengirim surat kepada Prabu
Darmakusuma raja Ngamarta. Ditya Jayapracandha ditugaskan untuk
menyampaikan surat permintaan itu.
Ditya Jayapracandha dan
perajuritnya bertemu dengan perajurit Ngastina. Terjadilah perang,
perajurit Ngastina menyimpang jalan.
Arjuna menghadap Bagawan
Abyasa di pertapaan Wukir Retawu. Arjuna memberi tahu, bahwa
Pandhawa akan mengadakan pertemuan dengan Korawa yang dipimpin oleh
Duryodana. Mereka akan bermain dadu. Bagawam Abyasa memberi banyak
nasihat, Arjuna disuruh kembali ke Ngamarta. Arjuna bersama
panakawan segera berangkat.
Perjalanan Arjuna dihadang
oleh perajurit raksasa dari Parang Gumiwang. Terjadilah perkelahian,
para raksasa musnah oleh panah Arjuna.
Bima menghadap Anoman di
Kendhalisada, memberi trahu rencana permainan dadu bersama warga
Korawa. Anoman meberi nasihat makna pertemuan para Pandhawa dan
Korawa. Itu awal akan terjadinya perang.
Kresna raja Dwarawati
dihadap oleh para isteri, Samba, Partajumena dan Setyaki. Raja
memberi tahu, bahwa atas kehendak dewa akan terjadi awal mula timbul
perang antara Pandhawa dengan Korawa. Raja Kresna ingin
menyaksikannya, para putra diminta menjaga kerajaan.
Yudhisthira duduk bersama
Kunthi, Drupadi, Nakula dan Sadewa. Mereka menanti kedatangan
Duryodana dan para Korawa.
Duryodana datang,
Yudhisthira menyambutnya. Patih Sakuni mengatur arena permaianan,
siap dengan perlengkapannya.
Setelah dijamu mereka
bersiap-siap main dadu, Yudhisthira selalu kalah, harta kekayaan
habis untuk taruhan. Yudhisthira sesaudara sedih, para Korawa
bersukaria mengambil seisi kerajaan Ngamarta.
Patih Sakuni hendak
memboyong Kunthi, lalu menarik kain kemben. Dursasana menagkap
Drupadi. Kunthi dan Drupadi berteriak keras. kunthi mengutuk dan
berjanji, ia tidak akan berkain tutup buah dada, sebelum mendapat
kulit Sakuni. Drupadi tidak akan bersanggul sebelum berjamas darah
Dursasana.
Bima dan Arjuna datang
bersama. Mereka heran mendengar tangis, setelah mengerti
persoalannya mereka mengamuk. Para Korawa bercerai berai lari
tunggang-langgang. Yudhisthira berdiam diri, datanglah angin kencang,
membawa para Korawa jatuh ke kerajaan Ngastina. Warga Pandhawa
menjadi tenang.
Kresna datang dan melihat
situasi sesudah terjadi keributan. Kunthi memberi penjelasan segala
sesuatu yang terjadi. Kresna memberi tahu, bahwa itu kehendak dewa
Yang Maha Tinggi.
Bagawan Abyasa berbicara
dengan Dhestharastra dan Widura tentang berita pertikaian Pandhawa
dangan Korawa. Mereka setuju berkunjung ke Ngamarta.
Prabu Jayalengkara dihadap
oleh Patih Jayahandaka dan Ditya Jayapracandha. Tengah mereka
berbincang-bincang datanglah Togog memberi tahu, bahwa utusan musnah
oleh Arjuna.
Prabu Jayalengkara marah,
sang patih diminta mempersiapkan perajurit. Setelah siap, para
perajurit raksasa berangkat ke Ngamarta.
Yudhisthira sedang berbicara
dengan Kresna, Bima dan Arjuna, Nakula dan Sadewa. Kresna memberi
nasihat agar para Pandhawa mau menyerah kepada kehendak Dewa Yang
Maha Tinggi. Tengah mereka berbicara, datanglah Bagawan Abyasa
bersama Dhestharastra dan Widura Mereka menghoramat bersama. Setelah
tahu, bahwa di Ngamarta telah terjadi keributan, Bagawan Abyasa
memberi nasihat agar para Pandhawa mau menerima nasib jeleknya.
Kelak dewa akan melindunginya.
Perajurit raksasa yang
dipimpin oleh Prabu Jayalengkara datang menyerang kerajaan Ngamarta.
Bagawan Abyasa menugaskan Widura, Bima dan Arjuna untuk mengusir
musuh.
Jayalengkara mati oleh
Widura, Patih Jayahandaka mati oleh Arjuna, dan perajurit raksasa
musnah oleh Bima.
Para Pandhawa mengadakan
pesta bersama Abyasa dan para tamu yang hadir di Ngamarta.
R.S. Subalidinata
Mangkunagara VII Jilid XXVIII, 1932: 15-20 |