KABAR ANYAR

MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

MEMBANGUN KARAKTER BANGSACarut-marutnya bangsa Indonesia saat ini menjadi bangsa yang korup, egois, individualistis, materalistis, dan sebagainya tidak bisa terlepas dari kesalahannya dunia pendidikan yang mengabaikan pendidikan karakter bangsa kepada anak didik. Anak didik sekarang ini juga sudah luntur rasa dan nilai nasionalisme dan patriotismenya. Pendidikan dianggap sukses apabila bisa berhasil secara ekonomis. Pendidikan sekarang lebih mengabdi pada tuntutan pasar, sama persis di kala penjajahan dulu, lebih mengabdi ke penjajah. Padahal pendidikan yang semacam itu akan sangat merugikan negara, karena akan menjauhkan anak didik dari rasa nasionalisme. Padahal penanaman karakter bangsa lebih efektif lewat keluarga dan dunia pendidikan. Penanaman karakter bangsa lewat pendidikan dan keluarga sangat penting agar anak didik ke depannya lebih mencintai negara dan negara tetap eksis serta memiliki kepribadian sekaligus disegani oleh negara lain.

Seperti yang terjadi ketika Indonesia baru merdeka hingga 20 tahun berikutnya, bangsa Indonesia di kepemimpinan Sukarno Hatta sangat disegani oleh negara lain, karena keduanya bisa menanamkan karakter bangsa kepada rakyatnya. Sayang hal itu tidak bisa berlanjut karena perubahan kepemimpinan dan tidak ada keberlanjutan penanaman karakter bangsa. Bahkan di saat ini, dunia pendidikan seolah-oleh telah mengabaikan pendidikan sejarah, ilmu bumi, dan Pancasila. Padahal ketiga pelajaran itu sangat berarti untuk membentuk karakter bangsa kepada anak didik, termasuk generasi muda.

MEMBANGUN KARAKTER BANGSAUntuk itu, penanaman karakter bangsa harus terus ditanamkan kepada anak didik lewat keluarga dan dunia pendidikan secara terus-menerus, dengan berbagai metode dan cara, agar anak didik terus memiliki karakter bangsa Indonesia sehingga mempunyai kepribadian bangsa yang kuat. Penanaman karakter bangsa bisa kembali melalui nilai-nilai dalam Pancasila, walaupun penerapannya tidak harus lewat P4 tetapi melalui kehidupan yang lebih nyata dan pragmatis, seperti kegiatan sawalan, penyembelihan korban, membantu bencana, tujuh belasan, atau kegiatan lainnya yang bisa dilakukan secara bersama-sama. Bisa juga mengembangkan lebih optimal lagi terhadap modal yang masih ada, seperti rasa nasionalisme dan patriotisme lewat olahraga, kesenian, dan lainnya. Tidak hanya ketika bangsa Indonesia diganggu negara lain, baru jiwa nasionalisme dan patriotisme muncul. Dan yang lebih penting, jika masih ada keteladanan dari para pemimpin bangsa, maka karakter bangsa ini akan tetap mudah dibentuk.

MEMBANGUN KARAKTER BANGSADemikian kesimpulan dari Dialog Budaya dan Gelar Seni “Yogja Semesta” Seri ke-37 yang mengambil tema “Membangun Karakter Bangsa” yang diselenggarakan oleh Yogya Semesta didukung Bank BPD DIY dan Dinas Kebudayaan Provinsi DIY di Pendopo Kepatihan Yogyakarta pada Selasa malam (2/11) lalu. Dalam diskusi tersebut menampilkan dua pembicara, yakni Prof. Sutaryo dan Drs. Djoko Pitoyo. Keduanya dosen UGM Yogyakarta. Hadir sekitar 60 peserta dari berbagai elemen masyarakat di Yogyakarta.

Acara dialog juga dimeriahkan dengan tembang “Ilir-Ilir” yang diiringi karawitan, tari Klana Alus yang dibawakan 2 penari pria, serta sebuah tembang Macapat Kinanthi yang syairnya sebagai berikut: //padha gulangen ing kalbu/ ing sasmita amrih lantip/ aja pijer mangan nendra/ kaprawiran den kaesthi/ pesunen sariranira/ cegahen dhahar lawan guling//. Di akhir penutup dilantunkan sebuah tembang Pangkur diiringi karawitan.

Suwandi