Adat Istiadat

UPACARA GREBEG MAULUD KERATON YOGYAKARTA 2011
(1)

UPACARA GREBEG MAULUD KERATON YOGYAKARTA 2011 (1)

Upacara perarakan gunungan di Keraton Yogyakarta (maupun Surakarta) lebih dikenal dengan Upacara Grebeg. Ada pula yang mengatakan sebagai Upacara Sekaten. Dalam tradisi di Keraton Yogyakarta, Upacara Grebeg umumnya diselenggarakan sebanyak tiga kali dalam setahun. Upacara Grebeg tersebut meliputi Grebeg Syawal, Grebeg Maulud, dan Grebeg Besar. Grebeg Syawal dilaksanakan sebagai bentuk peringatan akan selesainya bulan puasa atau bulan Ramadhan dan hadirnya bulan Syawal. Grebeg Maulud dilaksanakan sebagai bentuk peringatan akan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Grebeg Besar dilakasanakan sebagai bentuk peringatan akan bulan Besar atau bulan Dzulhijah.

UPACARA GREBEG MAULUD KERATON YOGYAKARTA 2011 (1)

Istilah grebeg berasal dari keluarnya raja dan keluarga dalam upacara tersebut dengan diiringi para punggawa yang proses keluarnya digambarkan seperti diiringi angin yang berbunyi gerebeg...gerebeg...

UPACARA GREBEG MAULUD KERATON YOGYAKARTA 2011 (1)

Upacara Grebeg di Yogyakarta dipercaya telah dilaksanakan sejak zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I (1755-1792). Pelaksanaan Upacara Grebeg dianggap sebagai wujud atau simbol kemurahan dan perlindungan raja terhadap kawulanya. Simbol itu diwujudkan dengan perarakan gunungan yang dikawal kesatuan-kesatuan prajurit kertaon yang disebut bregada. Untuk Keraton Yogyakarta terdapat 10 kesatuan prajurit yang mengiringi perarakan gunungan itu, yakni Prajurit Wirabraja, Daeng, Nyutra, Mantrijero, Patang Puluh, Bugis, Ketanggung, Jagakarya, Prawiratama, dan Surakarsa. Pada masa lalu ada bregada atau kesatuan prajurit lain,yakni Sumaatmaja, Jager, dan Langenastra.

UPACARA GREBEG MAULUD KERATON YOGYAKARTA 2011 (1)

Pada Upacara Grebeg Maulud, 16 Februari 2011 lalu gunungan yang diarak berjumlah tujuh buah. Enam buah diperebutkan di halaman Masjid Agung Keraton Yogyakarta sedang yang satunya lagi dikirimkan ke Kadipaten Paku Alaman untuk diperebutkan di sana. Satu buah lagi diperebutkan di Kepatihan Yogyakarta. Berkaitan dengan itu Kadipaten Paku Alaman juga mengirimkan dua buah bregada prajurit untuk menjemput gunungan tersebut. Kedua kesatuan atau bregada prajurit dari Kadipaten Paku Alaman itu adalah Prajurit Plangkir dan Draghonder.

UPACARA GREBEG MAULUD KERATON YOGYAKARTA 2011 (1)

Ada pun rincian gunungan yang diperebutkan bagi masyarakat umum ini adalah Gunungan Gepak (1 buah), Gunungan Lanang (2 buah), Gunungan Dharat (1 buah), Gunungan Wadon (1 buah), Gunungan Bromo (1 buah), dan Gunungan Pawuhan (1 buah). Gunungan itu sendiri sesungguhnya merupakan rangkaian makanan yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk semacam gunung. Gunungan-gunungan ini semula disemayamkan di tempat yang dinamakan Keben untuk kemudian dibawa ke Alun-alun Utara dan diarak menuju tempat yang telah ditentukan (Masjid Agung Keraton Yogyakarta, Masjid Paku Alaman, dan Kepatihan).

UPACARA GREBEG MAULUD KERATON YOGYAKARTA 2011 (1)

Perarakan gunungan ini dilakukan di baah pengawalan kesatuan-kesatuan prajurit seperti tersebut di atas. Bahkan untuk gunungan yang diberikan ke Kepatihan dilakukan dengan pengawalan sepasang gajah. Gunungan yang diarak ini sebelumnya diserahterimakan di Pagelaran oleh panitia kepada Manggalayuda Prajurit Keraton yang dalam hal ini adalah GBPH. Yudaningrat. Manggalayuda inilah yang menjadi pimpinan tertinggi prajurit keraton dan yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan perarakan gunungan hingga sampai ke tempat yang dituju.

UPACARA GREBEG MAULUD KERATON YOGYAKARTA 2011 (1)

bersambung

UPACARA GREBEG MAULUD KERATON YOGYAKARTA 2011 (1)

a.sartono