Adat Istiadat

MAKNA DI BALIK TRADISI TIONG JIU (ZHONG-QIU)

(I)

Perayaan Tiong Jiu yang sering juga disebut Zhong-qiu atau Perayaan Bulan Purnama merupakan tradisi yang cukup populer bagi kalangan etnis Tionghoa. Perayaan ini sangat populer di negeri leluhurnya dan juga di Hongkong dan Singapura. Bulan purnama dalam perhitungan kalender Tionghoa jatuh pada tanggal 15 bulan 8 tahun Imlek yang dalam kalender nasional jatuh pada hari Rabu tanggal 22 September 2010. Di Yogyakarta perayaan Tiong Jiu ini dirayakan di Kelenteng Gondomanan (Kelenteng Hok Tik Bio) dan Kelenteng Poncowinatan (Kwan Tee Kiong), Jl. Poncowinatan.

Ada hal yang khas berkenaan dengan persembayangan atau ritual ini, yakni dengan dibagikannya kue yang dinamakan Kue Bulan (Tiong Jiu Phia). Kue Bulan pada intinya hampir sama dengan bakpia akan tetapi dibuat lebih padat dan agak keras. Hanya saja bahan utamanya selain kacang hitam dan tepung terigu yang istimewa adalah biji teratai. Ukurannya bisa bervariasi. Isi dari Kue Bulan bisa berupa kumbu kacang hijau, cokelat, daging, atau keju.

Kue Bulan sesuai tradisinya tidak lazim dimakan sendirian. Artinya, setiap kue hendaknya dipotong untuk dapat dimakan secara bersama-sama. Jika kue tersebut ukurannya kecil dapat dibagi menjadi dua bagian saja. Akan tetapi jika kuenya besar bisa dibagi menjadi delapan, sepuluh, dan seterusnya. Intinya, dengan demikian hasrat untuk berbagi kasih sayang dan kebersamaan itu dapat tercermin dan terwujud dari peristiwa itu.

Kue Bulan secara filosofi merupakan lambang berbagi kasih dan kebersamaan. Berkaitan dengan hal itu Kue Bulan juga dibagikan di dua kelenteng di Yogyakarta itu. Siapa pun boleh mengambil dan menikmatinya. Bahkan di Kelenteng Poncowinatan semua pengunjung tanpa pandang bulu, latar belakang dan sebagainya beserta tamu undangan dipersilakan makan bersama-sama dengan bebas. Hal demikian sebagai wujud berbagi kasih dan kebersamaan itu.

Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (Makin) Yogya, Pin Siang mengatakan bahwa ritual Tiong Jiu ini dilakukan setahun sekali untuk merayakan terang bulan purnama. Harapan kami semoga seluruh umat manusia selalu hidup dalam kerukunan, damai dan sejahtera.

Ketua Panitia Penyelenggara Perayaan Tiong Jiu di Kelenteng Hok Tik Bio, Poncowinatan, Bapak Agung Budiono menyampaikan harapannya semoga dengan perayaan ini umat manusia dapat semakin rukun, tolong-menolong, bersatu-bulat seperti rembulan purnama. Pada kesempatan ini ditampilkan beberapa atraksi seperti liong (naga), samsie (barongsai), wushu, pembacaan puisi, pentas musik keroncong, pentas musik klasik Tionghoa, Tari Sajojo massal, makan bersama, pesta kembang api, dan pembagian Kue Bulan.

Di Indonesia sendiri perayaan semacam ini sudah lama tidak diselenggarakan. Untuk itulah penyelenggaraan Perayaan Bulan Purnama Rabu malam tanggal 22 September 2010 itu sebagai salah satu upaya memperkenalkan kembali tradisi Tionghoa yang diselenggarakan oleh masyarakat Tionghoa Yogyakarta yang tergabung dalam apa yang dinamakan Jogja Chinese Art and Culture yang disingkat menjadi JCACC.

Tradisi Zhong-qiu ini kecuali telah berlangsung demikian lama juga memiliki latar belakang yang menarik. Zhong-qiu sendiri pada hakikatnya adalah tradisi untuk menghormati Dewi Rembulan. Puncak acara ini dimeriahkan dengan pembagian atau menyantap kue rembulan secara bersama-sama.

Dewi Rembulan dalam tradisi Tionghoa dikernal dengan nama Chang E/Chang Erl. Akan tetapi Dewi Rembulan juga sering disebut Yue Shen, Tai Yin Huang-jun atau Yue Fu Chang E (Chang E dari Istana Rembulan). Menurut pendapat para ahli pemujaan terhadap Dewi Rembulan pada hakikatnya berasal dari pemujaan terhadap alam yang kemudian dipersonifikasi. Hal demikian banyak terjadi di berbagai belahan dunia, Barat maupun Timur.

Berbeda dengan perayaan hari-hari besar dalam agama dan tradisi Tionghoa yang lain, pemujaan terhadap Dewi Rembulan tidak pernah dilakukan secara besar-besaran. Umumnya tradisi pemujaan terhadap Dewi Rembulan ini dilakukan pada musim gugur di China. Hal demikian berasal dari masa Dinasti Qin/Qing (221 SM-206 SM). Dalam perjalanan waktu hal ini menjadi Festival Zhong Qiu atau Jong Kiu yang jatuh pada tanggal 15 bulan 8 Imlik yang di Indonesia untuk saat ini jatuh pada tanggal 22 September 2010.

Pada malam itu semua anggota keluarga umumnya berkumpul setelah bulan muncul di langit. Umumnya pada saat itu juga arah pandangan mata mereka ditujukan persis pada rembulan. Selain memandang ke arah rembulan, ada pula yang konsentrasi pandangannya diarahkan pada gambar Dewi rembulan atau pada kue rembulan. Mereka umumnya juga membakar dupa dan bersembayang.

Persembahan yang khas pada acara Zhong Qiu ini adalah apa yang disebut sebagai Yue-bing alias kue rembulan. Kue Yue-bing ini adalah lambang berkumpulnya keluarga dalam malam Zhong-qiu dengan suasana yang gembira. Ternyata kemunculan kue Yue-bing juga memiliki latar belakang yang menarik, yang seolah-olah tidak berhubungan langsung dengan tradisi Zhong-qiu.

Latar belakang tradisi pertukaran kue rembulan ini terjadi pada zaman Dinasti Yuan (Mongol) (1271-1368) Disebutkan bahwa pada masa ini penderitaan rakyat Tiongkok demikian berat akibat penindasan Dinasti Yuan. Kecuali itu bencana alam yang timbul berkepanjangan juga semakin memperparah keadaan. Hal seperti ini menimbulkan pemberontakan di mana-mana. Dari sekian pemberontakan terhadap pemerintahan bangsa Mongol, pemberontakan yang dipimpin oleh Zhu Yuanzang merupakan pemberontakan yang paling terkenal.

Untuk mengatur dan mengkoordinasikan gerakannya dengan gerakan pemberontak lain ia memerintahkan kepada para pengikutnya untuk membuat kue rembulan. Pada bagian dalam kue rembulan ini diisi dengan secarik kertas yang tulisan sebagai isyarat untuk bergerak. Tulisan di atas kertas itu berbunyi: ”Pada tanggal 15 bulan 8 bunuhlah kaum Tartar (Mongol)”. Pesan rahasia yang terdapat di dalam kue rembulan ini diteruskan kemana-mana dan tidak tercium oleh kaum Mongol. Maka pada tanggal tersebut terjadilah pemeberontakan besar-besaran. Kaum penjajah Mongol diserang dimana-mana secara hampir serentak. Sejak saat itulah kue rembulan menjadi terkenal dan kebiasaan membuat kue rembulan terus berlangsung dan selalu dikonsumsi secara besar-besaran setiap perayaan atau Upacara Zhong-qiu.

BERSAMBUNG

a. sartono