Adat Istiadat

UPACARA ADAT SAPARAN KI AGENG WONOLELO
DI PONDOK WONOLELO, WIDODOMARTANI,
NGEMPLAK, SLEMAN, PROPINSI DIY (1)

Ribuan orang menyemut di halaman Masjid Agung Wonolelo, Kompleks Makam Ki dan Nyi Ageng Wonolelo, serta lapangan tempat penyebaran apem Saparan Wonolelo di Pondok Wonolelo, Widodomartani, Ngemplak, Sleman, Propinsi DIY. Mereka telah bersiap diri di tempat-tempat itu sejak maghrib, Kamis, 21 Januari 2010. Kedatangan mereka membuktikan akan antusiasme mereka menyambut Upacara Saparan Ki Ageng Wonolelo di tempat ini. Acara Saparan di dusun ini pun sesungguhnya telah dimulai sejak tanggal 8 Januari 2010 dan akan berakhir pada tanggal 23 Januari 2010. Kecuali dihadiri oleh anggota masyarakat umum, acara ini juga dihadiri oleh unsur-unsur pemerintah setempat seperti, Koramil, Polsek, Kecamatan, Kelurahan, dan pamong dusun beserta jajarannya.

Ada pun acara yang digelar selama beberapa hari itu antara lain berupa pengajian, nada dan dakwah, pasar malam, dangdut, campursari, jatilan, srandul, tari-tarian, lomba poco-poco, ketoprak, band, topeng ireng, wayang kulit, karawitan, senam massal, tari gambyong pareanom, fragmen kisah Ki Ageng Wonolelo, kirab pusaka Ki Ageng Wonolelo, dan penyebaran apem.

Puncak acara Saparan Ki Ageng Wonolelo yang berupa Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo dan Penyebaran Apem dimulai pada pukul 19.00 WIB, Kamis 21 Januari 2010. Sebelum acara kirab dimulai, maka diadakan berbagai acara pendahuluan seperti, pelantunan gending-gending menyambut tamu, sambutan-sambutan, tari gambyong pareanom, pembacaan riwayat singkat Ki Ageng Wonolelo, fragmen kisah Ki Ageng Wonolelo, serah terima pimpinan kirab, dan pelaksanaan kirab yang diakhiri dengan penyebaran apem.

Dalam sambutan salah satu wakil dari trah Ki Ageng Wonolelo yang diwakili oleh MC dikatakan bahwa acara Saparan Ki Ageng Wonolelo ini dilakukan untuk mengenang, dan meniru segala suri tauladannya yang mulia, dan mengakrabkan tali silaturahmi antar anggota trah Ki Ageng Wonolelo. Pendeknya sebagai bagian dari usaha mikul dhuwur mendhem jero trah Ki/Nyi Ageng Wonolelo terhadap Ki/Nyi Ageng Wonolelo. Sementara itu Pemerintah Kabupaten Sleman mempunyai keinginan agar acara seperti ini bisa menjadi event pariwisata. Untuk itulah diperlukan penataan dan kemasan yang baik pula agar acara semacam itu bisa menjadi kian memikat sehingga menarik banyak orang untuk menyaksikannya.

Acara Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo dan Apem diawali di halaman Masjid Agung Ki Ageng Wonolelo. Untuk itulah segala ubarampe kirab dipersiapkan di halaman masjid ini. Demikian juga dengan regu atau kelompok-kelompok pengirab pusaka. Ubarampe yang dikirab antara lain adalah pusaka Ki Ageng Wonolelo yang berupa Al Quran, Tongkat/Teken, Pecahan Mustaka Masjid, Baju Gondhil, dan Kopyah. Sebenarnya ada satu pusaka lain peninggalan Ki Ageng Wonolelo, yakni Bandhil (semacam ketapel). Sayangnya Bandhil ini sekarang tidak ketahuan rimbanya.

Kecuali itu ubarampe yang lain adalah Sesaji dan Gunungan Apem. Sesaji yang ikut dikirab antara lain terdiri dari ingkung ayam, tumpeng robyong, sega golong dengan lauk berupa goreng-gorengan, bunga setaman, dan buah-buahan.

Kelompok atau barisan pengirab antara lain terdiri dari Drumband SD, Pembawa Obor dan Lentera, Barisan Pawang Jatilan, Kereta yang dinaiki Ketua dan Sesepuh Trah Ki Ageng Wonolelo, Drumband Prajurit, Drumband Prajurit Ki Ageng Wonolelo, Pembawa Sesaji dan Gunungan Apem, Pemikul Pusaka Ki Ageng Wonolelo, Kelompok Putri Bhayangkari Domas, Kelompok Alim Ulama, Kelompok Pembawa Besek dan Sosok, Kelompok Sesepuh Dusun, dan Panitia baru disusul warga masyarakat umum. Rute kirab mulai dari Masjid Agung Wonolelo menuju Kompleks Makam Ki Ageng Wonolelo sejauh kurang lebih 1,5 kilometer.

foto dan teks : a sartono