Yogya-mu

Pengantar

Di Yogyakarta "ada banyak hal" yang bisa dilihat baik yang lucu, menjengkelkan, serius, aneh-aneh dan seterusnya. Oleh sebab itu, agar netter bisa menikmati "banyak hal" yang ada di Yogyakarta, TeMBI membidiknya melalui lensa kamera dan disajikan dalam rubrik "Yogya-mu". Jadi dalam rubrik ini siapapun bisa "melihat" Yogyakarta yang bersisi macam-macam. Dari tayangan yang tersedia memang hanya dihadirkan 3 edisi. Edisi sebelumnya tetap bisa dibuka dan dilihat tetapi menggunakan password. Kalau anda adalah netter setia dari tembi.org dan mendaftar serta mengirimkan biodata, secara gratis anda akan dikasih password dan bisa mengakses beberapa rubrik yang memang memerlukan password dalam membuka.

Silahkan menikmati Yogya-mu untuk "mengenal" Yogya secara lebih jauh.


JEMBATAN BERNAMA DI SAYIDAN JOGJA

Apalah arti sebuah nama. Demikian pepatah sering mengatakan untuk menunjukkan bahwa nama sering tidak memiliki makna atau setidaknya untuk menunjukkan kerendahan hati. Akan tetapi sesederhana apa pun sebuah nama, keberadaannya tetaplah penting karena nama adalah menunjukkan perwujudan atau eksistensi dari identitas yang menyandangnya.

Jembatan yang diberi papan panjang yang menunjukkan namanya mungkin agak jarang kita temukan. Umumnya nama jembatan diterakan pada sebuah prasasti yang diletakkan di sisi jembatan. Prasasti itu sendiri umumnya dibuat tidak sangat menyolok. Kalaupun menyolok nama jembatannya tidak segera akan terlihat atau terbaca. Nama Jembatan yang diterakan dalam prasasti seperti sederet kata sertaan bagi kata atau kalimat lain yang diterakan di dalam prasasti.

Akan tetapi jembatan yang di sisinya diterakan nama dalam papan yang besar dapat kita temukan di Jogja. Jembatan tersebut adalah Jembatan Sayidan yang membentang di atas Sungai Code. Barangkali jembatan dengan papan nama yang panjang dan besar di Jogja memang hanya dapat ditemukan di Sayidan. Papan nama dari jembatan ini jika dilihat dari arah timur kelihatan demikian menyolok. Sosoknya yang menyolok seperti itu memudahkan orang untuk mengidentifikasi.

Kehadiran papan nama yang menunjukkan jatidiri jembatan di Sayidan ini mungkin bagi orang Jogja sendiri tidak terlalu luar biasa. Akan tetapi bagi orang dari luar Jogja yang baru masuk Jogja mungkin hal ini menjadi penting. Penting karena dengan melihat dan membacanya orang menjadi tahu ia sedang berada di mana. Ia menjadi tahu bahwa ia berada di Kampung Sayidan.

Barangkali juga hal demikian menjadi berarti bagi orang Jogja sendiri. Setidaknya dengan melihat sosok papan nama yang menunjukkan nama jembatan itu orang Jogja menjadi seperti diingatkan kembali akan miliknya. Diingatkan kembali akan harta kekayaannya, yakni di antaranya adalah benda yang berupa jembatan itu. Penamaan yang dimunculkan dalam papan nama itu juga menunjukkan betapa jembatan itu mempunyai peran penting, utamanya bagi warga Sayidan atau siapa pun yang melintasinya. Penamaan itu sendiri menegaskan tentang kehadiran jembatan itu. Menegaskan eksistensinya. Menegaskan bahwa ia ada, punya fungsi dan makna.

a. sartono


SISA RAMBU KERETA API DI NGAMPILAN, JOGJA

Era kejayaan kereta api jurusan Jogja-Magelang-Semarang memang telah berakhir. Jalur ini telah tergantikan oleh angkutan umum lain berupa bis maupun travel serta kendaraan pribadi. Pada zaman kendaraan darat jenis mobil, bis, dan sepeda motor belum melimpah ruah seperti sekarang, kereta api menjadi pilihan utamanya.

Sekalipun era kejayaan kereta api jurusan Jogja-Semarang telah sirna, jalur ini masih meninggalkan sisa-sisa kejayaannya. Di antaranya adalah rel yang telah tertimbun bangunan pemukiman, toko, warung, kios, pos kamling, pabrik, dan sebagainya. Rel jalur ini telah tenggelam sekalipun di beberapa ruas masih dapat dilihat, seperti ruas rel di daerah Blabak, Magelang.

Sisa atau peninggalan trayek kereta api jurusan Jogja-Semarang itu juga masih dapat kita saksikan di Jogja, yakni di Ngampilan. Di ruas jalan Letjend Suprapto Ngampilan, tepatnya di utara perempatan Ngampilan sisi timur jalan kita masih dapat menyaksikan sisa satu rambu yang digunakan untuk mengatur perjalanan kereta api. Rambu ini berdiri di atas menara besi dengan ketinggian sekitar 6 meter.

Rambu yang sebenarnya terletak tidak jauh dari Stasiun Ngampilan (Serangan) ini kini tampak demikian merana, sendiri, dan kehilangan makna serta fungsinya. Jika diamati maka rambu ini masih kelihatan gagah berdiri karena topangan menara besinya yang kuat (maklum logam besi produk zaman dulu memang lebih berkualitas daripada rata-rata produk besi zaman sekarang). Sisa cat warna kuning masih melekati permukaan logam rambu ini yang kenampakannya membentuk garis melintang berselang-seling (seperti garis sisi trotoar jalan yang berselang antara hitam dan putih).

Keletakannya yang sekarang berada di tengah trotoar mungkin sudah tidak direken lagi oleh orang. Bahkan mungkin dianggap mengganggu dan menyita ruang. Keletakannya yang berbaur dengan pemukiman, tiang bendera, tiang listrik, pepohonan, dan tiang telepon mungkin juga menjadikan sosoknya tidak menonjol. Ketidakmenonjolannya mungkin juga menjadikannya tidak terperhatikan.

Sebenarnya kehadiran rambu pengatur perjalanan kereta jurusan Jogja-Semarang yang sekarang terasa agak nyleneh karena di sekitarnya tidak ada lagi rel apalagi kereta dan stasiun, perlu juga dilestarikan sebagai tanda peringatan atau katakanlah monumen. Hal demikian mungkin perlu sebagai pengingat bahwa di tempat itu dulu pernah tergelar sejarah transportasi kereta api jurusan Jogja-Semarang. Masih adanya sisa peninggalan trayek kereta api Jogja-Semarang di tempat itu menjadikan orang seperti diingatkan kembali akan sejarah perkeretaapian, khususnya jurusan Jogja-Semarang.

Pada era itu kendaraan lain belum banyak. Polusi belum marak, kebisingan dan kesemrawutan belum segila sekarang. Ketegangan di jalanan belum setegang sekarang. Pada era itu perjalanan dengan kereta api hampir selalu dirasakan sebagai semacam perjalanan wisata sekalipun jarak yang diambil relatif pendek. Di dalam kereta orang bisa berbincang dengan santai sambil minum es, makan kacang, atau bahkan makan nasi. Perhubungan antarorang menjadi relatif menyaudara. Kini suasana semacam itu yang dulu terbangun lewat kereta api jurusan Jogja-Semarang sudah punah. Zaman berubah dan terus bergerak. Apa yang berlalu biarlah berlalu sekalipun pada titik-titik tertentu membangkitkan rasa rindu.

Anda penasaran dengan serpih peninggalan sejarah transportasi kereta api jurusan Jogja-Semarang ? Anda bisa membangkit-bangkit nostalgia Anda dengan datang dan mengamati sisa rambu kereta api di Ngampilan, Jogja.

a. sartono


PAK PRAPTO DAN FANATISME BLANGKON GAYA JOGJA

Jogja, sebuah wilayah yang sarat dengan tradisi Jawa di samping juga bergelut dan bergerak dengan kemodernan itu hingga kini masih memiliki tokoh-tokoh yang kukukuh menjaga tradisi. Salah satunya adalah A.Praptowiyono, seorang kakek berusi 74 tahun yang tinggal di Pronosutan, RT 56 RW 19, Kalurahan Kembang, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo. Lokasi rumah A. Praptowiyono dapat dicapai melalui perempatan Kenteng Nanggulan ke arah barat (Pasar Kenteng). Di depan Pasar Kenteng ini terdapat sebuah gang kampung. Pengunjung tinggal mengikuti jalan kampung ini masuk ke utara sejauh kurang lebih 200 meter.

Kakek yang masih enerjik dan selalu berpenampilan penuh senyum ini sejak 1956 hingga kini bertekun ria membuat blangkon gaya Mataraman atau blangkon Jogja. Yakni penutup kepala yang terbuat dari selembar kain dengan mondolan atau benjolan sebesar telur bebek di bagian belakang.

Blangkon tentu bukan merupakan komoditas yang menjanjikan. Setidaknya untuk saat ini mengingat semakin sedikitnya orang yang mau dan bisa mengenakan busana tradisional Jawa. Busana semacam itu paling banter hanya dikenakan ketika peringatan Hari Kartini dan pada acara-acara tradisional lain semacam merti dusun, karnaval, pentas kesenian tradisional, atau pengantinan ala Jawa. Di luar acara semacam itu pakaian tradisional Jawa bisa dikatakan telah dilupakan.

Meskipun demikian, Pak Prapto demikian ia akrab disapa, tetap bersemangat untuk terus membuat blangkon. Alasannya adalah bahwa jika di Jogja masih ada keraton serta masih ada sultan, blangkon tidak akan punah atau mati. Demikian kilahnya. Masalahnya, mau tidak mau keraton merupakan pancer atau pusat pengemban tradisi kebudayaan. Dengan demikian, blangkon masih akan tetap dibutuhkan karena para pelaku tradisi budaya di Jogja tidak akan mungkin meninggalkan busana tradisionalnya. Tidak heran jika Pak Prapto tetap eksis di dunia perblangkonan sejak 1956 sekalipun kawan-kawan seprofesinya semuanya sudah beralih ke profesi lain.

Apa yang dilakukan Pak Prapto ini akhirnya menular juga kepada cucunya, Dwi Kris Antoro (22). Mula-mula Dwi juga hanya ikut-ikutan atau membantu, lama-lama menjadi asyik dan tertarik. Apa yang dilakukan Dwi ini telah dimulainya sejak ia duduk di bangku kelas IV SD. Kini Dwi pun telah cukup ahli membuat blangkon. Apa yang dialami oleh Dwi ini mirip dengan apa yang dialami oleh Pak Prapto sendiri. Waktu itu, sekitar tahun 1953 ia juga hanya ikut-ikutan membantu ayahnya. Lama-kelamaan ia pun menjadi ahli. Hingga kini ia tetap mencintai profesi itu sekalipun ia pernah juga menjadi pegawai pada Dinas Kesehatan sebagai tenaga pemberantasan Malaria di tahun 1956-1960.

Bagi Pak Prapto tekadnya untuk membuat blangkon hanya dalam gaya Mataraman atau Jogja sudah bulat sekalipun sesungguhnya ia juga bisa membuat blangkon gaya Solo. Jika ada orang yange menginginkan blangkon gaya Solo kemudian datang kepadanya, biasanya Pak Prapto akan menyarankan pada yang lebih ahli yakni pengrajin blangkon gaya Solo di Solo.

Dalam proses pembuatan blangkon ini tahap yang dianggap paling sulit adalah tahap ketika me-wiru (melipat-lipat kain sehingga membentuk tumpukan lipatan dengan tekstur yang rapi). Sedangkan pada tahap lainnya terbilang relatif mudah. Untuk proses pembuatan blangkon mulai dari lembaran kain hingga menjadi sebuah blangkon diperlukan waktu antara 2-3 hari. Dalam sebulannya Pak Prapto bisa membuat sekitar 12 buah blangkon. Harga untuk masing-masing blangkon buatannya cukup variatif. Semua tergantung modelnya. Akan tetapi untuk kisaran harga (Agustus 2010) adalah antara Rp 175.000,00 hingga Rp 350.000,00. Jika diambil harga rata-rata per buahnya Rp 200.000,00 maka Pak Prapto memiliki penghasilan kotor Rp 2.400.000,00 per bulan.

Menurut pengalaman Pak Prapto hingga kini konsumen blangkonnya tidak pernah sepi. Untuk itu oa juga menerapkan pelayanan yang baik bagi konsumennya, yakni ia selalu tepat janji. Jika ia mengatakan bahwa blangkon pesanan siap dalam 3 hari ia akan menepatinya 3 hari. Jika ia merasa tidak mampu ia akan mengatakan dengan jujur bahwa ia tidak mampu. Intinya, ia tidak ingin mengecewakan konsumen.

Tembi pun sempat menanyakan apa saja motif atau nama blangkon itu. Pak Prapto menjawab bahwa motif atau nama blangkon biasanya sama dengan nama-nama motif batik yang digunakan untuk membuat blangkon. Jadi ada blangkon Sida Asih, Truntum, Winarnan, Wulung, dan lain-lain. Mungkin yang agak lain adalah blangkon Celeng Kewengen. Sedangkan bagian-bagian dari blangkon di antaranya adalah tanjungan (bagian depan blangkon), mondolan (bagian belakang blangkon), sidangan (bagian telinga), dan congkeng/kebut (bagian dalam).

Anda tertarik untuk membeli blangkon gaya Jogja, Pak Prapto mungkin bisa menjadi salah satu referensinya.

a. sartono


Edisi Sebelumnya ...