|
Figur Wayang

Pandhudewanata
tergeletak tak bernyawa, setelah Bathara Yama mencabut nyawanya.
(lukisan Herjaka HS)
Banjaran Cerita Pandhawa (27)
Nakula Sadewa Lahir
Raja Pandhudewanata
berwawancara dengan Resi Bisma, Yamawidura, Patih Kuruncana,
Puntadewa, Sena dan Permadi. Sang raja minta petunjuk dan nasihat
kepada Resi Bisma, bahwa Madrim ingin naik Lembu Andini kendaraan
Batara Guru. Resi Bisma memberi saran agar raja minta nasihat kepada
Bagawan Abyasa di Saptaarga, di pertapaan Wukir Retawu. Raja
Pandhudewanata menerima saran Resi Bisma, Patih Kuruncana
diperintahkan mempersiapkan perajurit. Setelah selesai perundingan,
raja masuk ke Gupitmandragini menemui dua isteri raja memberi tahu
tentang hasil pertemuan, dan rencana kepergian raja ke Saptaarga.
Yamawidura mengumumkan
perintah dan rencana kepergian raja kepada para perajurit. Para
perajurit diperintah supaya menghormat keberangkatan raja. Sebagian
perajurit dipersiapkan untuk mengawal kepergian raja ke Wukir Retawu.
Raja bersama perajurit berangkat ke Saptaarga, dipimpin oleh
Yamawidura.
Bogadata raja negara
Turilaya berunding dengan Gandapati, Kartipeya, Patih Hanggadenta,
Gendhingcaluring, Togog dan Sarawita. Mereka membicarakan amanat
Arya Dhestharastra yang disampaikan oleh Kartipeya, tentang perang
Baratayuda. Mereka menginginkan urungnya perang itu. Mereka
mengambil putusan untuk menyerang negara Ngastina, membunuh raja
Pandhudewanata beserta anak-anaknya. Patih Hanggadenta ditugaskan
menyerang negara Ngastina. Gendhingcaluring ditugaskan menjaga tapal
batas, dan siapa saja yang akan membantu Ngastina supaya
dihancurkannya. Raja Bogadata dan Kartipeya akan pergi ke Ngastina
secara sembunyi-sembunyi. Gandapati ditugaskan menjaga keamanan
negara Turilaya. Setelah siap, mereka berangkat menjalankan tugasnya
masing-masing. Perajurit Turilaya bertemu dengan perajurit Ngastina,
terjadilah pertempuran. Pertempuran padam setelah mereka
menghentikan perang. Masing-masing menyimpang jalan mencari selamat.
Resi Darmana dan anaknya
yang bernama Endang Darmi berbicara dengan para cantrik di padepokan
Hargasana. Sang Resi membicarakan surat lamaran Brahmana Kamindana.
Endang Darmi menurut kehendak ayahnya. Brahmana Kamindana datang,
menagih kesanggupan dan jawaban Resi Darmana tentang lamarannya.
Brahmana Kamindana amat kasar tutur katanya, Resi Darmana marah,
terjadilah perkelahian. Para cantrik tidak mampu mengeroyok Brahmana
Kamindana. Mula-mula Brahmana Kamindana kalah, kemudian menggunakan
pusaka saktinya berupa tombak pendek. Resi Darmana ditangkap akan
dibunuhnya. Sebelum terbunuh, Resi Darmana mengutuk, Brahmana
Kamindana dikatakan seperti rusa. Bersamaan dengan jatuhnya pusaka
Brahmana Kamindana ke dada Resi Darmana, Brahmana Kamindana berubah
menjadi rusa dan Resi Darmana meninggal dunia.
Setelah mendengar kematian
ayahnya, Endang Darmi pergi meninggalkan padepokan. Brahmana
Kamindana mengejarnya, tetapi ia tidak dapat menangkapnya. Dikatakan
oleh sang brahmana, Endang Darmi lari cepat seperti rusa. Seketika
Endang Darmi berubah menjadi rusa betina. Rusa Kamindana berhasil
menangkap rusa Darmi, mereka masuk ke hutan.
Raja Pandhudewanata bersama
Semar, Gareng, Petruk dan Bagong menghadap Begawan Abyasa di
Saptaarga. Raja menyampaikan maksud kedatangannya. Bagawan Abyasa
memberi petunjuk dan nasihat, bahwa permintaan Madrim itu kelewat
batas, dan besar bahayanya. Bagawan Abyasa menyerahkan kepada sikap
Pandhudewanata sendiri. Pandhu ingin menuruti keinginan Madrim, lalu
minta diri bersama para panakawan. Bagawan Abyasa mengawal dari
kejauhan, menuju ke Ngastina.
Di tengah perjalanan Pandhu
dan para panakawan bertemu dengan perajurit raksasa dari Turilaya.
Terjadilah pertempuran. Perajurit yang dipimpin Gendhingcaluring
kalah, Togog dan Sarawita kembali ke Turilaya. Pandhu meneruskan
perjalanan ke Suralaya.
Bathara Narada dan Bathara
Srita, Bathara Yama, Bathara Aswi, Bathara Aswin dan Lembu Andini
menghadap Bathara Guru. Bathara Guru bertanya kepada Bathara Aswi
dan Bathara Aswin, sebab apa mereka berdua turun ke Ngastina. Mereka
menjawab, bahwa mereka datang atas panggilan Madrim isteri Raja
Pandhu, yang ingin mempunyai anak. Bathara Guru menyuruh agar mereka
berdua turun ke Ngastina, untuk bertanggungjawab atas kelahiran bayi
yang akan datang. Bathara Aswi dan Bathara Aswin berangkat ke
Ngastina.
Sepeninggalnya Bathara Aswi
dan Bathara Aswin, raja Pandhu datang, menghadap Bathara Guru, minta
pinjaman Lembu Andini. Bathara Guru marah, sebab raja Pandhu pernah
mendirikan taman larangan dewa yang disebut Taman Kadilengleng, yang
mirip dengan taman Tinjomaya. Pandhu minta maaf, tetapi Bathara Guru
bertambah marah, karena ia hanya menuruti keinginan perempuan
isterinya. Pandhu minta maaf dan menyampaikan beberapa sanggahan
dengan berbagai pertanyaan. Apakah ia bersalah karena menuruti
permintaan isteri? Makhluk yang mengajukan permohonan kepada Dewa
itu bersalah? Apakah salah bila raja minta perlindungan kepada raja
semua raja? Apakah sudah benar raja Tribuana menolak permintaan raja
kecil? Bukankah raja besar wajib mengabulkan permintaan raja kecil
dan melindunginya? Akhirnya Bathara Guru mengabulkan permintaan
Pandhu dengan syarat, Pandhu tidak akan berbuat salah lagi. Bila
berbuat salah Pandhu akan dicabut nyawanya. Pandhu sanggup menerima
hukuman bila ia bersalah, lalu mohon diri. Para panakawan dan Lembu
Andini mengikutinya.
Sepeninggal Pandhu dari
Suralaya, Bathara Guru mengutus Bathara Narada supaya turun ke
Ngastina. Nyawa Pandhu harus dicabut sesudah mengendarai Lembu
Andini. Bathara Yama diberi tugas untuk mengikuti Bathara Narada.
Mereka berdua berangkat ke Ngastina. Pandhu mengikuti jalannya Lembu
Andini masuk ke hutan Kandhawa. Di tengah hutan Pandhu melihat
sepasang Rusa yang sedang memadu kasih. Ia iri melihatnya. Rusa
jantan dipanah, berubah menjadi Brahmana Kamindana. Brahmana
Kamindana mengutuk, pandhu akan mati bila memadu kasih dengan
isterinya. Rusa betina juga dipanahnya, lalu kembali menjadi Endang
Darmi. Endang Darmi mengutuk, isteri Pandhu akan mati setelah
melahirkan bayi kandungannya. Brahmana Kamindana dan Endang Darmi
musnah dari pandangan Pandhu. Pandhu kembali ke negara Ngastina.
Bagawan Abyasa dihadap oleh
Resi Bisma, Yamawidura, Patih Kuruncana dan Sena, mereka
memperbincangkan kepergian Pandhu ke Suralaya. Pandhu dan panakawan
datang bersama Lembu Andini. Pandhu melapor segala usahanya,
kemudian masuk ke istana menemui Dewi Kunthi dan Dewi Madrim.
Setelah memberi tahu tentang hasil yang diperoleh, Pandhu dan Dewi
Madrim naik Lembu Andini. Mereka melayang-layang di angkasa, di atas
negara Ngastina. Di atas angkasa Pandhu dan Madrim berwawan asmara,
kemudian turun ke bumi Ngastina. Lembu Andini kembali ke Suralaya.
Pandhu masuk istana, bercerita kepada Begawan Abyasa, Resi Bisma,
Yamawidura, Patih Kuruncana, Sena dan Arjuna. Mereka asyik
mendengarkan cerita Pandhu di istana. Bathara Narada dan Bathara
Yama menjalankan tugas mereka, nyawa Pandhu dicabutnya. Pandhu
meninggal dunia, orang seistana gempar kesedihan. Bathara Aswi dan
Bathara Aswin menjelma kepada bayi yang dikandung oleh Dewi Madrim.
Setelah Dewi Madrim tahu bahwa raja Pandhu telah meninggal, ia bunuh
diri, sebuah patrem dimasukkan ke dalam perutnya. Dua bayi lahir
melalui luka perut Dewi Madrim. Bathara Narada dan Bathara Yama
datang, menemui Abyasa, minta agar bayi itu diberi nama Nakula dan
Sadewa. Kemudian mereka berdua mengangkat jenasah Pandhu dan Madrim
dibawa ke Tepetloka. Begawan Abyasa meminta agar Kunthi mengasuh dua
bayi itu seperti anaknya sendiri. Kunthi menerima kedua bayi dengan
senang hati.
Raja Bogadata, Kartipeya dan
perajurit Turilaya bersiap-siap menggempur negara Ngastina. Bagawan
Abyasa berunding dengan Resi Bisma. Yamawidura, Sena, Patih
Kuruncana dan Arjuna. Mereka membicarakan kekacauan negara dan
serangan musuh. Bogadata dan perajurit telah menyerang. Patih
Kuruncana ditugaskan untuk menyiapkan perajurit. Sena, Arjuna dan
Yamawidura ikut berperang. Bogadata dipanah oleh Arjuna, Kartipeya
kena panah Yamawidura, Hanggadenta mati oleh Patih Kuruncana, para
perajurit Turilaya musnah oleh amukan Sena. Perang pun selesai.
Bagawan Abyasa, Resi Bisma,
Yamawidura dan Patih Kuruncana berunding, mereka akan menobatkan
Dhestharasta sebagai pemegang pemerintahan sampai para Pandhawa
dewasa. Mereka mengadakan pesta penobatan.
R.S. Subalidinata
Pandjang Mas Tahun IV, 1956 No. 5-6 |