|
30 Juli 2010, Kabar Anyar
JAGONGAN
WAYANG GAUL “Yen ngono kowe sing maling, Durno! Ayo diantemi wae”,
“(Ayo ayo…!!)”, “Ampun… paak…ampun”, “Sik…sik ojo podho main hakim dhewe,
Astina ki negara hukum, ayo becike digowo wae menyang kelurahan, ben
sing berwajib mengko sing ngrampungi perkoro iki..”, “Iya bener kuwi
ngendikane Pak Dukuh, ayo co enggal digowo menyang kelurahan”, “(Ayo…ayo).”
30 Juli 2010, Pasinaon basa Jawa
TABUNG
GAS PADHA MBLEDHOS Karepe mono kepengin nyuksesake programe
pamarentah ing babagan konversi tabung gas minangka gantine lenga pet (mambu)
kanggo urusan mangsak lan olah-olah liyane. Nanging sawise telung taun
mlaku, dadine malah gawe mirise warga masarakat sing padha nggunakake
tabung gas, khususe sing bobot 3 kg. Mirise warga masarakat mau mesthi
wae ana dhasare.
30 Juli 2010, Figur Wayang
Pandhawa
Dadu Prabu Duryodana raja Ngastina duduk di atas singhasana
dihadap oleh Patih Sakuni dan warga Korawa. Raja memperbincangkan
rencana permainan dadu dengan para Pandhawa. Patih Sakuni memberi
petunjuk rencana permainan dadu kepada raja dan warga Korawa. Kemudian
raja meningalkan perundingan, masuk istana. Raja disambut oleh
permaisuri dan putri raja, Lesmanawati.
29 Juli 2010, Primbon
Perhitungan
Hal Pekerjaan
Selain menentukan Wuku dan mengenali watak dasar si bayi, hari dan
pasaran kelahiran juga dapat dipakai untuk memprediksi pekerjaan atau
profesi yang cocok untuk si bayi kelak. Perhitungan ini dapat di jadikan
salah satu panduan untuk mendampingi dan mengarahkan, pertumbuhannya si
anak sesuai dengan potensi dan bakat yang dimiliki sehingga nantinya
dapat mencapai hasil yang maksimal, dan mendapatkan sukses besar.
29 Juli 2010, Situs
SENDANG
PENJALIN Sendang Penjalin dinamakan demikian karena menurut
sumber setempat dulunya tempat ini merupkan hutan penjalin atau hutan
tanaman rotan. Menurut cerita legenda setempat hutan rotan ini terjadi
karena dulunya ada orang sakti bernama Kyai Modang mengembara sampai
daerah ini.
28 Juli 2010, Kabar Anyar
DUDUK
BERSAMA GUS DUR “Duduk bersama Gus Dur’demikian salah satu judul
karaya seni rupa yang ikut dipamerkan pada ‘ArtJog’ di Taman Budaya
Yogyakarta. Karya seni rupa ini berupa patung, dan menampilkan sosok Gus
Dur dalam keseharian. Mengenakan tshirt dan celana pendek serta sandal.
28 Juli 2010, Perpustakaan
Konservasi
Lingkungan dan Bangunan Kuno Bersejarah di Surakarta Konservasi
menurut Piagam Burra adalah segenap proses pengelolaan suatu tempat agar
makna kultural yang dikandungnya terpelihara dengan baik. Konservasi
dapat meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan dan sesuai dengan situasi
dan kondisi setempat dapat mencakup preservasi, restorasi/rehabilitasi,
rekonstruksi, adaptasi/ revitalisasi, demolisi.
28 Juli 2010, Yogya-mu
MAKAM PAHLAWAN DI LUAR TAMAN MAKAM PAHLAWAN Istilah pahlawan tanpa tanda
jasa tentu kita kenal, yakni yang disebut sebagai guru. Mungkin agak
lain dengan dosen sekalipun keduanya memiliki kewajiban dan tugas
yang sama: mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik dan
sekaligus mengajarkan budi pekerti yang baik. Jika nasib guru banyak
yang kapiran, maka nasib dosen bisa dibilang justru sebaliknya.
27 Juli 2010, Kabar Anyar
KETOPRAK
'LEREH KEPRABON' SULTAN HAMENGKU BUWONO VII Mereka bertiga, Abdi
Dalem Wajan, Gowel dan Mojah, duduk bersimpuh di lantai. Wajan dan Mojah
menangis sambil meratap, sedangkan Gowel duduk terpekur, saat iringan
jenazah mendiang Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VII lewat.
27 Juli 2010, Bothekan
NGATURAKE
KIDANG LUMAYU
Pepatah Jawa di atas secara harfiah berarti melaporkan kijang (yang
telah) lari. Kijang adalah binatang yang dapat berlari kencang. Kijang
di masa lalu merupakan binatang yang banyak diburu untuk diambil daging
atau tanduknya.
27 Juli 2010, Ensiklopedi
EMBEK-EMBEKAN
Tentunya permainan
anak yang satu ini sudah tidak asing lagi bagi anak-anak kampung di Jawa
pada zaman dahulu, terutama anak laki-laki. Permainan ini memang lebih
kental dimainkan oleh anak laki-laki daripada perempuan, karena
membutuhkan unsur kekuatan fisik. Kekuatan fisik identik dengan anak
laki-laki.
27 Juli 2010, Kursus Tembang Macapat
KURSUS
TEMBANG MACAPAT
Mulai bulan Juli 2010, Tembi Rumah Budaya membuka Kursus Tembang
Macapat Tingkat Dasar. Kursus ini memakai sitem jarak jauh, dengan mengandalkan
bahasa teks. Oleh karenanya teks yang di online kan diusahakan komunikatif,
dengan memakai dua macam notasi, yaitu Pentatonic (lima tangga nada) yang
memakai nada suara Gamelan dan Diatonis (tujuh tangga nada) yang memakai nada
suara Piano atau Gitar.
26 Juli 2010, Kabar Anyar
NEGARA
KESEJAHTERAAN UNTUK WARGA NEGARA Salah satu sektor publik, ialah
bidang kesehatan yang menjadi hak warga susah sekali untuk diakses.
Warga miskin yang menderita sakit, apalagi sakit berat, harus rela untuk
tidak bisa menyembuhkannya, lantaran tidak memiliki uang untuk membiayai
penyembuhan.
26 Juli 2010, Klangenan
SEPEDA
ONTHEL DI YOGYA
Tahun 1975, udara Yogya pagi masih dingin, meski waktu sudah menunjuk
pukul 8 pagi. Meski sudah 35 tahun lewat, tetapi ingatan itu belum juga
lenyap. Masih mengendap dalam memori dan belum dilupakan. Pada waktu itu,
bersama seorang teman saya mengayuh sepeda onthel dari Yogya menuju
Muntilan.
26 Juli 2010, Suguhan
SATE
GEPUK DAN BISTIK SAPI
Jalan Tamansiswa tidak lagi sepi seperti tahun 1980-an. Lalu lintasnya
padat, sehingga kendaraan seringkali tersendat. Meski tidak macet, namun
pengguna jalan tidak bisa leluasa. Apalagi, dipinggir jalan seringkali
dipakai untuk parkir kendaraan roda empat.
|
|
JAGONGAN
WAYANG GAUL
“Yen
ngono kowe sing maling, Durno! Ayo diantemi wae”, “(Ayo ayo…!!)”, “Ampun… paak…ampun”,
“Sik…sik ojo podho main hakim dhewe, Astina ki negara hukum, ayo becike digowo
wae menyang kelurahan, ben sing berwajib mengko sing ngrampungi perkoro iki..”,
“Iya bener kuwi ngendikane Pak Dukuh, ayo co enggal digowo menyang kelurahan”,
“(Ayo…ayo).”
Demikian dialog
penutup dari pentas wayang gaul, yang lantas diakhiri dengan narasi, “Semenjak
peristiwa malam itu kampung Astina menjadi aman dan damai, dan warga pun mulai
sadar akan pentingnya bersiskamling demi kenyamanan kampung mereka.”
Wayang
gaul ini dimainkan oleh Kobbate (Komunitas Belajar dan Bermain Anak Tembi).
Narasinya disampaikan dalam bahasa Indonesia “yang baik dan benar”. Sedangkan
dialognya dibawakan dalam bahasa Jawa, dengan gaya bahasa pergaulan. Sebagiannya
malah campuran dengan kosa kata nonJawa, seperti “mulakno rasah sok yes”, atau
“seperti ini rak sip tho?” Begitu pula idiomnya, Citraksi memanggil Dursasana
dengan ‘bro’, kependekan dari brother, yang mencerminkan keakraban. Tapi di sisi
lain, terhadap ibunya, Banowati tetap memakai kata “inggih Bu’, yang ditimpali
sang ibu dengan menggerutu, “Bocah
saiki
inggah inggih ning ora kepanggih.”
Inti lakon ini
berkisah tentang penggunaan teknologi tepat guna, yang mengambil alur kisah
tentang ketidakamanan di kampung Astina. Berawal dari rumah Kepala Dukuh yang
kemalingan, lantas warga mengaktifkan kembali kegiatan ronda. Sebagaimana
lazimnya ronda tradisional, para peronda menggunakan kentongan yang dipukul
berulang kali. Tapi beberapa peronda seperti Duryudana, Sengkuni dan Durmogati
malah asyik main kartu, sedangkan Dorna lelap tertidur. Setelah kepergok Pak
Dukuh mereka meronda lagi. Durmogati mencoba menghubungi nomor handphone (HP)
Pak Dukuh yang hilang.
Ternyata
dari kantong Dorna terdengar dering panggilan. Setelah HP Dorna dilihat,
ternyata nomor HP Durmogati yang muncul. Dorna yang nyaris dihakimi dengan cara
kekerasan akhirnya dibawa ke kelurahan.
Sebagai adegan antara,
digambarkan bagaimana Dursanana, Citraksi dan Banowati asik berfacebook di
warung internet (warnet). Di sana Citraksi menggoda Banowati dengan mengaku
sebagai Aldo Wagino. Juga digambarkan bagaimana Banowati asik ber-HP ria di mana
pun, di kamar tidur maupun di kamar mandi.
Humam
Rohmadi, sutradara dan penulis naskah, menjelaskan bahwa pementasan ini ingin
menyampaikan persoalan teknologi tepat guna. Di satu sisi, masih penting dan
relevannya media tradisional seperti kentongan, yang juga hemat energi dan murah.
Di sisi lain, jika kecanggihan komputer dan HP hanya digunakan untuk keperluan
bermain-main maka nilai manfaatnya kurang.
Bentukan fisik wayang
ala Kobbate ini berbeda dengan wayang konvensional. Sama-sama dua dimensi
seperti wayang purwa namun bentuknya lebih sederhana, dan secara komikal mirip
manusia. Bahannya terbuat dari kasa, lantas beberapa bagian
tubuhnya
”diukir” sederhana dan diberi kertas mika berwarna. Sorotan cahaya lampu akan
membentuk siluet wayang berikut motif berwarna-warni. Tampilannya tidak sebatas
tokoh wayang tetapi juga sejumlah benda modern seperti sepeda, skuter, HP, TV,
dan komputer.
Wayang ini dimainkan
beramai-ramai. Pada pementasan lakon malam itu, tiga orang bertugas menggerakkan
wayang, satu orang membuat ilustrasi musik secara live, dan para pemain lainnya
bertugas membacakan naskah dialog. Special effectnya masih sederhana, sebatas
bunyi mulut. Penggunaan tokoh-tokohnya tampaknya lebih pada stereotip karakter
wayang yang dikenal.
Pementasan wayang gaul
pada 24 Juli ini merupakan bagian dari acara Jagongan Media Rakyat di Jogja
National Museum, 22-25 Juli, yang diselenggarakan oleh Combine Resource
Institute (CRI). Selain Kobbate, ditampilkan pula Wayang Kardus Anak Sambak
Magelang, Wayang Bocah Tjipta Boedaya Dusun Tutup Ngisor Muntilan, selain
pementasan teater,
tari
dan film.
Jagongan merupakan
kolaborasi antar komunitas, kelompok, pegiat, dan peminat media rakyat dari
banyak wilayah di Indonesia yang berisi beragam diskusi, workshop, penayangan
video, dan pertunjukan seni. Melalui acara yang mempertemukan banyak pihak dan
pelaku ini diharapkan dapat dibangun jaringan kerja bersama di masa depan
terkait dengan kegiatan pengelolaan jaringan informasi rakyat.
Acara ini melibatkan
sekitar 40 komunitas, yang dibagi dalam stand-stand. Sebagai media rakyat,
beragam cara dan format media digunakan. Ada komunitas yang menggunakan
pementasan seni. Ada pula komunitas yang medianya lewat poster, buku, CD,
internet dan radio komunitas. Komunitas yang tampil rata-rata merupakan
komunitas counter culture, mulai dari yang “lunak” semacam Sekolah Brosot yang
memicu kreativitas anak dengan menggunakan bahan-bahan sekitar, Komunitas Tanam
Untuk Kehidupan Salatiga yang membuat workshop daur ulang sampah, sampai yang
“keras” seperti Media Center Korban Lumpur Lapindo Sidoarjo, dan Omah Kendeng
Pati yang menolak pembangunan pabrik semen di Sukolilo.
barata |