|
Klangenan
SEPEDA ONTHEL DI YOGYA
Tahun
1975, udara Yogya pagi masih dingin, meski waktu sudah menunjuk
pukul 8 pagi. Meski sudah 35 tahun lewat, tetapi ingatan itu belum
juga lenyap. Masih mengendap dalam memori dan belum dilupakan. Pada
waktu itu, bersama seorang teman saya mengayuh sepeda onthel dari
Yogya menuju Muntilan. Di Yogya, tepatnya di wilayah Pasar Ngasem.
Di Muntilan, beberapa ratus meter dari Pasar Muntilan. Nama dusunya
lupa, dan letaknya juga lupa karena sekarang daerah yang dulu saya
tuju sudah banyak mengalami perubahan. Jarak Yogya-Muntilan
kira-kira 30 Km.
Pada tahun-tahun itu, sepeda
onthel masih termasuk ‘barang aji’ –untuk tidak menyebut mewah--,
apalagi jenis sepeda onthelnya model baru, yang waktu itu sering
disebut sebagai sepeda jengki, warna biru atau merah. Tapi, saya
mengayuh sepeda tua buatan tahun 1940-an. Sepeda milik bapak saya,
yang sekarang masih tersimpan, dan sudah jarang dipakai.
Disepanjang jalan,
berpapasan banyak sepeda yang menuju ke kota. Paling tidak dari
daerah Kabupaten Sleman, banyak sepeda yang bergerak ke selatan
menuju kota Yogyakarta. Para pengayuh sepeda onthel itu mungkin
sedang glidig, istilah lain dari bekerja, yang bukan kantoran.
Pendek kata, lalu lintas sepeda, pada waktu itu, masih ‘memenuhi’
jalan raya.. Namun bukan berarti sepeda motor dan mobil tidak ada,
bisa ditemukan, meski jumlahnya tidak genap lima jari.
Pada tahun yang sama,
bersama dengan rombongan, kira-kira berjumlah 10 orang, saya
mengayuh sepeda onthel menuju Gua Selarong. Pada waktu itu, di Gua
Selarong dikenal dengan tanaman jambu kluthuk (jambu biji), sehingga
kapan bermain ke Gua Selarong, biasanya, pulangnya membawa buah
jambu kluthuk. Jarak dari rumah ke Gua Selarong kira-kira 15 Km.
Lalu lintas di Bantul, pada
waktu itu, banyak dijumpai sepeda onthel. Sehingga, Bantul seperti
identik dengan sepeda. Pagi hari berangkat gli dig
menuju kota Yogya menggunakan sepeda onthel. Oleh sebab itu, pada
waktu itu, jalan masuk menuju Bantul, yakni Pojok Beteng Kulon dan
Pojok Beteng Wetan, pagi dan sore hari, dipenuhi oleh sepeda onthel.
Apa yang saya alami 35 tahun
lalu, kini tidak lagi terulang. Naik sepeda onthel dalam jarak yang
cukup jauh, misalnya 30 Km sekali jalan, sehingga pulang balik
menempuh jarak 60 Km, hampir-hampir tidak pernah dilakukan. Bukan
hanya oleh saya, tetapi oleh banyak orang. Karena itu, sepeda onthel
sepi di jalan-jalan di Yogyakarta. Baik di tengah kota, maupun
diwilayah Bantul dan Sleman serta di kota-kota lain di Yogya. Sepeda
mengalami peminggiran di kotanya sendiri.
Sepeda dan Yogya Kini
Menelusuri sudut-sudut Yogya,
termasuk daerah yang tahun 1980-an masih sepi, seperti diwilayah
Kledokan, Seturan, kini telah berubah ramai. Pemukiman baru tumbuh,
dan sepanjang jalan ada banyak warung dan toko. Kledokan bukan lagi
daerah sepi, setidaknya seperti tahun 1980-an saya sering melewati.
Kini, kawasan ini telah menjadi daerah padat kendaraan, dan
lagi-lagi, sulit menemukan sepeda melewati daerah ini. Hanya sepeda
motor dan mobil yang memadati lalu lintas yang menghubungkan antara
ring road utara ( Condong Catur) dengan lintas jalan Solo.
Yang lain misalnya, kawasan
Babarsari, yang dulunya dikenal sepi, kini telah ramai dan padat
lalu lintas orang. Juga, arah menuju kawasan Condong Catur, melalui
selatan, jalan sebelah timur Ambarukmo ada arah jalan ke utara
sampai kompleks perumahan Condong Catur. Sebelum ada ring road,
warga perumnas Condong Catur yang kerjanya di Yogya, satu-satunya
jalan hanya lewat tempat ini. Lintas jalannya masih sepi dan berupa
jalan tanah’ Kiri-kanan jalan masih berupa sawah. Jika jam 6 sore
tiba, sedikit sekali lalu lintas yang l ewat.
Diwilayah ini, seringkali ada berita, orang dirampok, sepedanya
diminta dan berbagai kabar lainnya, hanya untuk menunjukkan bahwa
lintas jalan ini termasuk rawan.
Namun, jalan-jalan di Yogya
yang dulunya dikenal sepi dan jarang untuk dilewati, kini telah
padat pemukiman, dan tentu saja, padat kendaraan.
Apalagi ditengah kota Yogya,
padat sepeda motor dan mobil. Kalaupun ditemukan sepeda onthel, yang
menggunakan anak-anak sekolah SMP, jumlahnya pun tidak banyak.
Anak-anak yang menggunakan sepeda onthel, kelak kalau dewasa,
misalnya masuk universitas, pastilah tidak lagi menggunakan sepeda
onthel, seperti umumnya mahasiswa kini.
Wilayah yang lain, misalnya
di Bantul, yang dikenal sebagai ‘wilayah’ sepeda, sekarang tidak
mudah menemukan sepeda melintasi jalan utama Bantul. Coba kita
perhatikan, perempatan ring road yang memasuki wilayah Bantul, dan
perempatan ring road selatan sebenarnya sudah masuk wilayah Bantul,
ialah perempatan menuju jalan Parangtritis dan perempatan menuju
jalan Bantul. Dari arah selatan maupun dari arah utara, pagi-siang
maupun sore, padat sepeda motor dan mobil. Hampir-hampir tidak
menemukan sepeda onthel melintas. Ini artinya, Bantul sebagai
‘wilayah’ sepeda tidak lagi relevan. Bahkan, bukan hanya Bantul,
Yogya tidak lagi sebagai kota sepeda.
Dalam kata lain, sepeda
onthel di Yogya telah menjadi masa lalu. Tidak hilang dari ingatan,
hanya telah menjadi masa lalu, meski sering dikenang, tetapi tidak
difungsionalkan dalam kehidupan keseharian.
Sepeda onthel di Yogya
sekarang hanya sebagai piranti turistik
Ons Untoro |