Kursus Tembang Macapat

KURSUS
TEMBANG MACAPAT
(memakai Piano/Gitar)
Mulai bulan Juli 2010, Tembi Rumah Budaya membuka Kursus Tembang Macapat Tingkat Dasar. Kursus ini memakai sitem jarak jauh, dengan mengandalkan bahasa teks. Oleh karenanya teks yang di online kan diusahakan komunikatif, dengan memakai dua macam notasi, yaitu Pentatonic (lima tangga nada) yang memakai nada suara Gamelan dan Diatonis (tujuh tangga nada) yang memakai nada suara Piano atau Gitar. Dengan menampilkan dua notasi tersebut diharapakn para peserta kursus, dapat memilih teks yang disediakan sesuai dengan kemampuan dalam membaca not., sehingga dapat membantu kelancaran dalam proses belajar.
Pada kursus Tingkat Dasar ini disediakan 10 materi Tembang Macapat, yang akan diberikan satu bulan sekali, selama sepuluh bulan. Setelah sepuluh materi tersebut di online kan, artinya bahwa Kursus Tembang Macapat Tingkat Dasar telah selesai. Para peserta yang mengikuti kursus secara intensif, berkesinambungan dan menguasai sepuluh tembang dengan baik dan benar, dinyatakan telah lulus dalam mengikuti Kursus Tembang Macapat Tingkat Dasar.
Berkaitan dengan tanda kelulusan, peserta yang ingin mendapatkan Partisara (sertifikat) Kursus Tembang Macapat Tingkat Dasar secara resmi dari Tembi Rumah Budaya, dapat datang di Kantor Tembi Rumah Budaya yang beralamatkan di Jalan Parangtritis Km 8,4 Sewon Bantul Jogyakarta, telpon (0274)368000. Tentu saja dengan pembuktian bahwa yang bersangkutan benar-benar dapat menyanyikan sepuluh tembang yang telah di on line kan.
Bagi yang berminat mengikuti Kursus ini, baik secara perorangan ataupun kelompok, dapat langsung bergabung di rubrik ini.
Edisi I
Pada Edisi pertama ini Tembang yang dipakai untuk belajar adalah tembang Kinanthi yang dilagukan dengan notasi Mangu. Sedangkan teks tembang, mencuplik dari “Serat Rama” sebanyak dua pada, seperti yang ditulis pada teks di bawah ini:
Pada 1:
Nalikanira ing dalu
wong agung mangsah semedi
sirep kang bala wanara
sadaya wus sami guling
nadyan ari sudarsana
wus dangu nggenira guling
Pada 2
Kukusing dupa kumelun
ngeningken tyas sang apekik
kawengku sagung jajahan
nanging sanget angikipi
sang Resi Kaneka Putra
tumedhak saking wiyati
Pada adalah istilah dalam Tembang Macapat. Jika dilihat dari lagunya, satu pada adalah satu putaran lagu. Namun jika dilihat dari teksnya, satu pada adalah satu alinea. Terjemahan:
Pada 1.
ketika malam telah tiba
wong agung sedang melakukan doa. (yang dimaksud dengan wong agung adalah Prabu
Ramawijaya, raja negara Pancawati yang mempunyai perajurit kera)
tidak ada suara dari bala tentara kera
semuanya sudah tidur
juga adik yang berparas tampan (yang dimaksud adalah Laksmana Widagda, adik
Prabu Rama Wijaya)
sudah lama tidurnya
Pada 2.
Asap dupa mengepul
mengheningkan cipta yang berparas tampan (yang dimaksud adalah Prabu Ramawijaya)
untuk mendoakan semua jajahan
yang juga menjadi lindunganya
dewa Narada turun dari langit
KINANTHI
jenis lagu : Mangu
jenis laras: pentatonic Gamelan Slendro pathet manyura (ji, ro, lu, ma, nem)
. . . . . . . . .
6 1 2 2 2 2 2 1 2 . 3 . 0
1. Na- li- ka- ni- ra ing da- lu
2. Ku- ku- sing du- pa ku- me- lun
. . .
2 1 6 6 . 6 1 6 . 5 3 . 2 3 2 1 . 0
1. wong a- gung mang-sah se- me- di
2. nge- ning- ken tyas sang a- pe- kik
. . . . . . . . . .
2 3 3 3 . 2 2 2 3 2 . 1 6 . 0
1. si- rep kang ba- la wa-na- ra
2. ka-weng-ku sa- gung ja- jah- an
.
6 6 6 1 . 3 2 1 3 . 0
1. sa-da- ya wus sa-mi gu- ling
2. na-nging sa- nget a- ngi-kip-i
. . .
3 5 6 1 1 2 6 . 5 3 . 2 3 2 .1 6 . 0
.
1. na- dyan a- ri su- dar- sa- na
2. sang re- si Ka- ne- ka Pu- tra
6 1 2 2 2 2 2 1 3 . 2 1 . 0
.
1. wus da- ngu nggen- i- ra gu- ling
2. tu- me- dhak sa- king wi- ya- ti
Keterangan: walaupun tembang diatas memakai notasi pentatonic yang mengacu pada gamelan, larasnya atau tinggi nadanya untuk membawakan tembang macapat tidak harus sama dengan gamelan. Karena Tembang Macapat tidak diiringi dengan gamelan
KINANTHI
jenis lagu : Mangu
jenis laras: Diatonic piano/gitar (do, re, mi, fa, sol, la, si)
. . . . . . . . . .
1 2 3 3 3 3 3 2 3 . 5 . 0
1. Na- li- ka- ni- ra ing da- lu
2. Ku- ku- sing du- pa ku- me- lun
. . . . . . .
3 2 1 1 . 1 2 1 . 6 5 . 3 5 3 2 . 0
1. wong a- gung mang-sah se- me- di
2. nge- ning- ken tyas sang a- pe- kik
. . . . . . . . . . .
3 5 5 5 . 3 3 3 5 3 . 2 1 . 0
1. si- rep kang ba- la wa-na- ra
2. ka-weng-ku sa- gung ja- jah- an
. . . .
1 1 1 2 . 5 3 2 5 . 0
1. sa-da- ya wus sa-mi gu- ling
2. na-nging sa- nget a- ngi-kip-i
. . . . .
5 6 1 2 2 3 1 . 6 5 . 3 5 3 .2 1 . 0
1. na- dyan a- ri su- dar- sa- na
2. sang re- si Ka- ne- ka Pu- tra
1 2 3 3 3 3 3 2 5 . 3 2 . 0
wus da- ngu nggen- i- ra gu- ling
tu- me- dhak sa- king wi- ya- ti
Keterangan:
Garis yang menghubungkan angka yang satu dengan angka yang lain maksudnya adalah
tanda legato
Selama masa kursus, pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan materi kursus pada khususnya, maupun pengetahuan macapat pada umumnya, dapat disampaikan lewat buku tamu dalam website tembi.org
Dua alinea yang disusun dalam tembang Kinanthi tersebut mengisahkan perjalanan Prabu Ramawijaya bersama adiknya, Laksmana Widagda dan perajurit kera, yang sedang berada diperkemahan. Pada tengah malam, ketika adiknya dan seluruh bala tentara kera nyenyak dalam tidur, Prabu Ramawjaya berdoa untuk keselamatan mereka semua, termasuk keselamatan dan kesejahteraan negara-negara yang menjadi tanggungannya. Permohonan Prabu Ramawijaya dikabulkan, dengan ditandai turunnya Dewa Narada dari Kahyangan.
Adakah saat ini, sosok pemimpin seperti yang diteladankan oleh Prabu Ramawiajaya? Yang ketika rakyatnya ternyenyak dalam tidur, sang pemimpin justru bangun, untuk menjaganya dalam doa, agar negara dan rakyatnya dihindarkan dari mara bahaya.
Herjaka HS