Djogdja Tempo Doeloe - PAKAIAN WANITA JAWA DI MASA LALU (ABAD 18)

Barangkali apa yang dilakukan Thomas Stamford Raffles ketika berada di Jawa dan melakukan pencatatan terhadap berbagai hal tidak pernah dilakukan oleh kolonialis bangsa Eropa lainnya. Oleh karena itu, tidak aneh jika ia kemudian menyombongkan diri bahwa dirinyalah orang (Eropa) yang memiliki catatan terlengkap mengenai Jawa. Hal demikian dapat dimengerti mengingat hampir semua hal yang dia lihat di Jawa memang kemudian dicatatnya dalam buku yang memang terkenal, The History of Java.

Salah satu catatan menarik yang dibuat oleh Raffles adalah tentang pakaian wanita Jawa. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa wanita Jawa di masa lalu sudah umum memakai kain jenis sarung. Disebutkan dalam buku Raffles bahwa penampilannya (sarung tersebut) tidak seperti kain pendek Skotlandia (ingat pakaian tradisional Skotlandia yang mirip rok). Berupa sehelai kain bercorak dengan oanjang 6-8 kaki dan lebarnya 3-4 kaki dijahit di kedua sisinya (disambungkan), dan bentuknya seperti karung tanpa alas yang dijahit.

Para wanita Jawa juga menggunakan kain yang dililitkan hingga mata kaki. Pengikat kain dinamakan udat. Sedangkan kain yang dililitkan mengelilingi tubuh menutupi dada sampai dekat lengan disebut kemban (kemben). Mereka seringkali juga memakai gaun longgar sepanjang lutut yang biasanya berwarna biru dengan panjang berkancing di pergelangan tangan. Jaket pendek seperti laki-laki yang dipakai juga disebut kelambi (baju/kebaya). Wanita Jawa umumnya tidak mengenakan kain di kepala (iket/udheng), melainkan menggulung rambutnya yang disebut dengan istilah gelung. Mereka juga biasa memakai sejenis logam (kuningan, tembaga, perak, emas), atau bahan dari tanduk kerbau untuk anting-anting.

Cara berpakaian wanita dari kalangan bangsawan maupun rakyat kebanyakan secara prinsipiil tidak ada perbedaan. Hanya saja wanita dari kalangan bangsawan umumnya mengenakan pakaian dengan bahan yang lebih berkualitas dan indah serta perhiasan yang terbuat dari emas, perak, intan, berlian, dan lain-lain. Semua orang mengenakan sandal di dalam rumah, terutama di distrik-distrik Eropa.

Umumnya wanita-wanita Jawa (bahkan juga kaum prianya) meminyaki rambutnya dengan minyak wangi. Raffles menyebut beberapa jenis minyak tersebut, di antaranya adalah minyak cendana, minyak kenanga, minyak gaharu, minyak gandapura, dan minyak jeruk. Minyak dalam bahasa Jawa, lenga, oleh Raffles dituliskan lang’a. Selain itu sering pula para wanita Jawa melumuri tubuh mereka dengan ramuan yang disebut boreh. Ada beberapa jenis boreh yakni boreh kuning (bedak kuning), boreh ireng (boreh hitam), boreh sari, dan boreh klembak.

Foto berikut menunjukkan bagaimana kira-kira gambaran Raffles terhadap wanita Jawa dengan kelengkapan pakaiannya. Barangkali apa yang digambarkan Raffles berbeda dengan gambaran pakaian tradisional wanita Jawa saat ini.

a. sartono