KABAR ANYAR

TANTANGAN BUKU-BUKU TERJEMAHAN DI INDONESIA

TANTANGAN BUKU-BUKU TERJEMAHAN DI INDONESIAFenomena penerjemahan di Indonesia sangat penting. Sekarang ada sekitar 60% karya terjemahan dari seluruh penerbitan di Indonesia. Meski demikian sekarang banyak sekali karya yang diterjemahkan oleh orang yang sama sekali tidak mengerti proses penerjemahan. Dan biasanya karya tersebut diedit tanpa melihat karya aslinya. Banyak penerbit yang mengeluhkan mutu penerjemahan. Namun di sisi lain, penerbit membayar rendah upah penerjemah, sementara waktu menerjemahkan harus secepatnya, hanya sekian minggu, sehingga asal jadi.

Pakar terjemahan Henri Chambert-Loir mengemukakan hal itu di Lembaga Indonesia Prancis, Februari lalu dalam kuliah umumnya yang berjudul ‘Penerjemahan di Indonesia: Sejarah dan Tantangan’. Kuliah ini merupakan bagian dari penerbitan buku ‘Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia’ terbitan 2009 yang disunting Henri. Acara yang dimoderatori Antariksa dari Kunci Cultural Studies Center banyak dihadiri kalangan penerjemah dan seniman.

Menurut Henri, dari segi kualitas ada perbedaan antara penerjemahan pada masa sekarang dan masa lalu. Dulu penerjemahan dilakukan oleh cendekiawan terkenal dan berpendidikan, yang betul-betul menguasai bahasa asing dan memahami proses penerjemahan. Pada masa Soekarno misalnya, Abdul Muis, Muhammad Yamin, HB Jassin, Agus Salim dan lainnya menerjemahkan karya-karya dari bahasa Belanda, Jerman, Prancis dan Inggris. Namun pada masa rezim Soeharto, para cendekiawan dilucuti dari tanggung jawab sosialnya sehingga mereka lepas tangan. Sekarang sulit menyebut sastrawan terkenal yang menerjemahkan apa pun. Selain itu, tak ada lembaga yang punya tanggung jawab atau wibawa yang mengoreksi dan memperbaiki penerjemahan.

TANTANGAN BUKU-BUKU TERJEMAHAN DI INDONESIAPadahal, lanjut Henri, di nusantara aktivitas menerjemahkan sebenarnya sudah lama, sekitar seribu tahun. Bahkan teks yang pertama kali ditulis merupakan terjemahan. Kakawin Ramayana berbahasa Jawa Kuno, misalnya, disadur dari sebuah karya Sansekerta pada abad ke-9. Kemudian pada 14 Oktober 996, untuk pertama kalinya di nusantara, di kraton Raja Dharmawangsa Teguh di Jawa Timur diadakan pembacaan Wirataparwa, buku pertama dari proyek penerjemahan Mahabarata ke dalam bahasa Jawa Kuno. Penerjemahan ini dilakukan atas perintah sang raja. Acara yang dihadiri Raja Dharmawangsa ini berlangsung selama sebulan kurang semalam.

Henri membagi sejarah penerjemahan di Indonesia dalam tiga periode, yakni zaman Hindu-Budha/periode pengaruh India, zaman/pengaruh Islam dan zaman kolonial/pengaruh Eropa. Yang menarik, terdapat persamaan yang mencolok di antara ketiga periode itu, yakni setiap kali penerjemahan dari suatu bahasa tertentu mengiringi peminjaman suatu sistem tulis, suatu bahasa dan suatu agama. Pada periode pengaruh India, masuklah agama Hindu dan Budha, disertai bahasa Sansekerta dan huruf Palawa. Pada periode pengaruh Islam, berkembang huruf Arab (termasuk melayu gundul) dan bahasa Arab. Agak berbeda adalah periode pengaruh Eropa, meskipun masuk sistem tulis Latin namun tidak disertai perpindahan bahasa dan agama seperti pada periode sebelumnya. Toh periode ini penting dengan dominannya tulisan Latin, serta tergesernya tulisan Arab dan Jawa. Orang Indonesia juga kehilangan salah satu kepribadian Islamnya. Banyak pula kosakata bahasa Eropa seperti Belanda dan Inggris yang diserap.

Menarik pula mengenai peran bahasa Melayu. Menurut Henri, bahasa Melayu memungkinkan berbagai teks asing masuk ke dalam bahasa-bahasa lokal tetapi di sisi lain tidak memperkenalkan teks-teks lokal kepada khalayak yang lebih luas.

TANTANGAN BUKU-BUKU TERJEMAHAN DI INDONESIATantangan penerjemahan di Indonesia pada masa sekarang, bagi Henri adalah kurangnya penghargaan terhadap profesi penerjemah. Selain kecilnya honor penerjemah, nama penerjemah hanya dicantumkan di credit title. Seharusnya nama penerjemah dicantumkan di halaman sampul atau halaman judul bagian dalam. Karena sesungguhnya sebuah buku terjemahan merupakan hasil karya dua pihak, pengarang dan penerjemah. Perlu ditumbuhkan penghormatan dan kesadaran bahwa setiap buku terjemahan merupakan hasil kerjasama pengarang dan penerjemah. Demikian pula, tambah Henri, tidak ada anugerah kepada penerjemah. Anugerah sastra tidak pernah diberikan kepada penerjemah, hanya kepada pengarang dan penerbit.

Tantangan lainnya bagi Henri adalah terjemahan di Indonesia kini merupakan prakarsa penerbit sendiri yang didorong motivasi memperoleh untung. Karenanya buku yang dipilih untuk diterjemahkan umumnya bukan yang paling berguna tapi yang paling laku.

Henri juga memandang pentingnya peningkatan peran pendidikan di bidang penerjemahan. Memang ada beberapa sekolah yang memberi kuliah penerjemahan tapi jumlahnya sedikit sekali dan tidak sepadan.

Pandangan Henri memang lebih merupakan gambaran umum. Pada kenyataannya, kita masih menemukan buku-buku terjemahan yang baik, dari bahasa Inggris maupun Arab. Dan bukan buku yang sekadar laku tapi penting. Meski harus diakui dalam skala persentase keseluruhan, jumlahnya masih sedikit.

barata