KABAR ANYAR

JAGONGAN WAYANG GAUL

“Yen ngono kowe sing maling, Durno! Ayo diantemi wae”, “(Ayo ayo…!!)”, “Ampun… paak…ampun”, “Sik…sik ojo podho main hakim dhewe, Astina ki negara hukum, ayo becike digowo wae menyang kelurahan, ben sing berwajib mengko sing ngrampungi perkoro iki..”, “Iya bener kuwi ngendikane Pak Dukuh, ayo co enggal digowo menyang kelurahan”, “(Ayo…ayo).”

Demikian dialog penutup dari pentas wayang gaul, yang lantas diakhiri dengan narasi, “Semenjak peristiwa malam itu kampung Astina menjadi aman dan damai, dan warga pun mulai sadar akan pentingnya bersiskamling demi kenyamanan kampung mereka.”

Wayang gaul ini dimainkan oleh Kobbate (Komunitas Belajar dan Bermain Anak Tembi). Narasinya disampaikan dalam bahasa Indonesia “yang baik dan benar”. Sedangkan dialognya dibawakan dalam bahasa Jawa, dengan gaya bahasa pergaulan. Sebagiannya malah campuran dengan kosa kata nonJawa, seperti “mulakno rasah sok yes”, atau “seperti ini rak sip tho?” Begitu pula idiomnya, Citraksi memanggil Dursasana dengan ‘bro’, kependekan dari brother, yang mencerminkan keakraban. Tapi di sisi lain, terhadap ibunya, Banowati tetap memakai kata “inggih Bu’, yang ditimpali sang ibu dengan menggerutu, “Bocah saiki inggah inggih ning ora kepanggih.”

Inti lakon ini berkisah tentang penggunaan teknologi tepat guna, yang mengambil alur kisah tentang ketidakamanan di kampung Astina. Berawal dari rumah Kepala Dukuh yang kemalingan, lantas warga mengaktifkan kembali kegiatan ronda. Sebagaimana lazimnya ronda tradisional, para peronda menggunakan kentongan yang dipukul berulang kali. Tapi beberapa peronda seperti Duryudana, Sengkuni dan Durmogati malah asyik main kartu, sedangkan Dorna lelap tertidur. Setelah kepergok Pak Dukuh mereka meronda lagi. Durmogati mencoba menghubungi nomor handphone (HP) Pak Dukuh yang hilang. Ternyata dari kantong Dorna terdengar dering panggilan. Setelah HP Dorna dilihat, ternyata nomor HP Durmogati yang muncul. Dorna yang nyaris dihakimi dengan cara kekerasan akhirnya dibawa ke kelurahan.

Sebagai adegan antara, digambarkan bagaimana Dursanana, Citraksi dan Banowati asik berfacebook di warung internet (warnet). Di sana Citraksi menggoda Banowati dengan mengaku sebagai Aldo Wagino. Juga digambarkan bagaimana Banowati asik ber-HP ria di mana pun, di kamar tidur maupun di kamar mandi.

Humam Rohmadi, sutradara dan penulis naskah, menjelaskan bahwa pementasan ini ingin menyampaikan persoalan teknologi tepat guna. Di satu sisi, masih penting dan relevannya media tradisional seperti kentongan, yang juga hemat energi dan murah. Di sisi lain, jika kecanggihan komputer dan HP hanya digunakan untuk keperluan bermain-main maka nilai manfaatnya kurang.

Bentukan fisik wayang ala Kobbate ini berbeda dengan wayang konvensional. Sama-sama dua dimensi seperti wayang purwa namun bentuknya lebih sederhana, dan secara komikal mirip manusia. Bahannya terbuat dari kasa, lantas beberapa bagian tubuhnya ”diukir” sederhana dan diberi kertas mika berwarna. Sorotan cahaya lampu akan membentuk siluet wayang berikut motif berwarna-warni. Tampilannya tidak sebatas tokoh wayang tetapi juga sejumlah benda modern seperti sepeda, skuter, HP, TV, dan komputer.

Wayang ini dimainkan beramai-ramai. Pada pementasan lakon malam itu, tiga orang bertugas menggerakkan wayang, satu orang membuat ilustrasi musik secara live, dan para pemain lainnya bertugas membacakan naskah dialog. Special effectnya masih sederhana, sebatas bunyi mulut. Penggunaan tokoh-tokohnya tampaknya lebih pada stereotip karakter wayang yang dikenal.

Pementasan wayang gaul pada 24 Juli ini merupakan bagian dari acara Jagongan Media Rakyat di Jogja National Museum, 22-25 Juli, yang diselenggarakan oleh Combine Resource Institute (CRI). Selain Kobbate, ditampilkan pula Wayang Kardus Anak Sambak Magelang, Wayang Bocah Tjipta Boedaya Dusun Tutup Ngisor Muntilan, selain pementasan teater, tari dan film.

Jagongan merupakan kolaborasi antar komunitas, kelompok, pegiat, dan peminat media rakyat dari banyak wilayah di Indonesia yang berisi beragam diskusi, workshop, penayangan video, dan pertunjukan seni. Melalui acara yang mempertemukan banyak pihak dan pelaku ini diharapkan dapat dibangun jaringan kerja bersama di masa depan terkait dengan kegiatan pengelolaan jaringan informasi rakyat.

Acara ini melibatkan sekitar 40 komunitas, yang dibagi dalam stand-stand. Sebagai media rakyat, beragam cara dan format media digunakan. Ada komunitas yang menggunakan pementasan seni. Ada pula komunitas yang medianya lewat poster, buku, CD, internet dan radio komunitas. Komunitas yang tampil rata-rata merupakan komunitas counter culture, mulai dari yang “lunak” semacam Sekolah Brosot yang memicu kreativitas anak dengan menggunakan bahan-bahan sekitar, Komunitas Tanam Untuk Kehidupan Salatiga yang membuat workshop daur ulang sampah, sampai yang “keras” seperti Media Center Korban Lumpur Lapindo Sidoarjo, dan Omah Kendeng Pati yang menolak pembangunan pabrik semen di Sukolilo.

barata