KABAR ANYAR

KETOPRAK 'LEREH KEPRABON' SULTAN HAMENGKU BUWONO VII

Mereka bertiga, Abdi Dalem Wajan, Gowel dan Mojah, duduk bersimpuh di lantai. Wajan dan Mojah menangis sambil meratap, sedangkan Gowel duduk terpekur, saat iringan jenazah mendiang Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VII lewat. Sebelumnya, mereka bertiga, yang masing-masing diperankan Marwoto, Susilo “Den Baguse Ngarso” Nugroho dan Yuningsih (Yu Beruk) masih saling meledek satu sama lain, yang menjadi adegan pembuka pergelaran ketoprak ‘Lereh Keprabon’.

Lantas kisah pun mundur, berlangsung flash back, saat Sri Sultan masih belia. Saat itu beliau yang masih bernama Gusti Raden Mas Murtedjo (diperankan oleh R. Cahyo Murtiyanto) terlibat pembicaraan dengan ibunya, Raden Ayu Sepuh. Sang ibunda—istri Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi (diperankan ST Pritt)—meminta Murtedjo agar menjadi abdi dalem kraton. Permintaan yang tidak biasa, yang mendidik kemandirian dan mencerminkan sikap andhap asor seorang bangsawan. Maka Murtedjo pun menjadi abdi dalem dengan tanggung jawab menata kursi.

Kesederhanaan Murtedjo juga tampak dari pakaian kegemaran beliau yang selalu dipakainya, yakni kain panjang bermotif kawung sehingga ia dijuluki sebagai Den Mas Kawung. Motif kawung ini bermakna agar setiap insan senantiasa ingat akan tujuan hidupnya dengan kiblat papat lima pancer, yang digambarkan lima bulatan pada motif itu. Murtedjo memang dikenal intens melakukan laku spiritual.

Ketika Sri Sultan Hamengku Buwono V—yang tidak memiliki anak laki-laki—wafat, atas usulan Residen Yogyakarta De Geer (diperankan RM Condroyono), KGPA Mangkubumi—adik kandung sang raja— dinobatkan sebagai Sultan Hamengku Buwono VI. Maka Murtedjo naik menjadi putra dalem, tak lagi berstatus wayah dalem, dan bergelar Bendara Raden Mas, kemudian beliau dianugerahi gelar Bendara Pangeran Harya Hangabehi. Pada perkembangannya, ibunda Murtedjo diangkat dari selir sang raja menjadi permaisuri yang bergelar Gusti Kangjeng Ratu Sultan, karena pernikahan Sultan Hamengku Buwono VI dengan permaisuri Gusti Kangjeng Ratu Kencana tidak melahirkan anak laki-laki. Murtedjo pun diangkat sebagai putra mahkota, pewaris tahta kesultanan Yogyakarta, bergelar Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengku Negoro Sudibya Raja Putra Narendra Mataram.

Adegan ketoprak lantas menampilan penobatan beliau sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada 13 Agustus 1877, dengan gelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Hingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Hing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah Hingkang Jumeneng Kaping VII Hing Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat. Usai penobatan, beliau menganugerahi ibundanya dengan gelar Gusti Kanjeng Ratu Hageng.

Pada masa pemerintahannya, Ngarsa Dalem HB VII menggelar pendidikan tidak hanya untuk para putra dalem tetapi juga para senata dalem. Beliau juga mengirimkan sejumlah putranya untuk belajar ke negeri Belanda. Di bidang ekonomi, bersama adiknya KGPA Mangkubumi, beliau mendirikan 17 pabrik gula, serta pabrik vanili di Lendah, Kulon Progo. Di bidang kebudayaan, beliau mengijinkan putranya, GPH Tedjokusumo, mendirikan perkumpulan tari Kridha Beksa Wirama di luar cepuri kraton. Peninggalan lainnya adalah renovasi Tugu yang ada sekarang, setelah hancur akibat gempa tahun 1887.

Persis pada usia ke-81, pada 29 Januari 1920 Ngarsa Dalem HB VII mengundurkan diri, lereh keprabon. Dalam pandangan banyak orang, beliaulah satu-satunya raja yang mengundurkan diri atas kehendak sendiri. Pada 30 Desember 1921, beliau wafat pada usia 82 tahun.

Karena berkisah tentang kehidupan Ngarsa Dalem HB VII maka dalam durasi yang terbatas, sekitar 2 jam, yang ditampilkan adalah penggalan-penggalan peristiwa tertentu. Dengan pendekatan fragmentaris ini maka terasa lompatan-lompatan alur. Penggambaran hidup Ngarsa Dalem ditampilkan lewat pengadeganan dan lewat penuturan Susilo dan Yu Beruk. Di sela-sela pergantian adegan tampillah para pengocok perut, Marwoto, Susilo, Yu Beruk, Wisben, Hargi Sundari, juga Sudiharja dan Hamzah Hendro Sutikno (Hamzah Mirota Batik).

Lereh Keprabon disutradarai M. Sugiarto, dengan penulis naskah RM Heru Kesawa Murti, penata musik RM Otok Bimo Sidharta, art director Agus ”Leyloor” Prasetya, dan pimpinan produksi RM Sutopo Tedjo Baskoro.

Pergelaran ketoprak ini agak berbeda dengan biasanya karena sebagian besar diperankan oleh para bangsawan kraton yang merupakan keturunan HB VII. Pergelaran yang berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta, 23-24 Juli, ini diselenggarakan oleh Sapta Wandawa, yakni Paguyuban Trah Ng. DSDISKS Hamengku Buwono VII.

Kesan yang terbawa seusai menonton pertunjukan ini adalah keharuan dan kebanggaan atas teladan seorang pemimpin yang tidak saja berpikiran terbuka dan menjalankan amanat yang diberikan kepadanya, tapi juga dengan sadar dan ikhlas mengundurkan diri dari tahta pada saatnya serta meninggalkan warisan yang bermanfaat dalam bidang ekonomi dan budaya.

barata