KABAR ANYAR

KONFERENSI BENCANA ALAM DI UGM (1)

Pendekatan terhadap persoalan bencana selama ini memiliki dua kegagalan mendasar. Pertama, kajian bencana banyak terjebak pada penelitian pasca bencana, sehingga melupakan kerentanan yang melekat secara historis dalam masyarakat. Kedua, rencana dan manajemen bencana sering menafikan karakteristik lokal, baik bahasa, kode maupun budaya setempat. Penyebabnya, pendekatan yang berkembang masih didominasi pendekatan modernis yang hanya membatasi pada kalangan ahli dan menutup akses keterlibatan masyarakat lokal.

Demikian disampaikan Abdul Malik dalam Konferensi Hibah Penelitian Interpretasi dan Respons atas Bencana Alam: Kajian Integratif Ilmu, Agama dan Budaya, di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), 11/3/10.

Dalam makalah penelitiannya, Abdul Malik mengangkat persoalan perayaan Maulid Hijau di Desa Tegalrandu, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Yang dimaksud dengan Maulid Hijau adalah peringatan kelahiran Nabi Muhammad yang disertai dengan penyadaran dan konservasi lingkungan hidup. Perayaan ini telah dilaksanakan sejak tahun 2006, dan terus berlangsung hingga kini.

Perayaan ini, papar Abdul Malik, berlangsung selama tiga hari. Pada hari pertama dimulai dengan acara penghijauan, yakni menanam pohon di sekitar danau Ranu Klakah, juga pada dua hari beikutnya. Hari kedua diisi dengan pentas budaya dan tradisi masyarakat, dari kesenian hingga tradisi sakral yang disebut dengan larung sesaji. Ritual larung sesaji merupakan tradisi turun-temurun sebagai bentuk syukur kepada Tuhan yang yang telah memberikan danau sebagai sumber kehidupan mereka. Hari ketiga diisi dengan pengajian dan ceramah agama.

Aktivitas Maulid Hijau memang sangat urgen jika melihat kerusakan lingkungan yang parah di Kabupaten Lumajajang. Abdul Malik menuturkan, Desa Tegalrandu merupakan kawasan wisata yang memiliki danau Ranu Klakah dan Gunung Lamongan yang indah. Namun akibat pembalakan liar sejak 1998, hutan seluas 3.000 hektar di Gunung Lamongan rusak. Sejumlah daerah di sekitarnya menjadi pelanggan banjir dan longsor. Akibat pembalakan tersebut, beberapa danau di kaki Gunung Lamongan sudah mulai kehilangan sumber mata air. Danau Ranu Klakah sendiri, yang semula memiliki sekitar 32 mata air kini hanya tinggal 4 mata air, dan terus mengalami pendangkalan. Maka bencana alam pun terus mengancam, baik berupa krisis air, kebakaran hutan di setiap musim kemarau, maupun banjir dan longsor.

Maulid Hijau telah membuahkan hasil. Menurut Abdul Malik, dorongan simbolik dari perayaan tersebut telah menyadarkan masyarakat tetang arti pentingnya alam semesta yang telah menyediakan kehidupan bagi mereka. Aksi menanam pohon di lereng Gunung Lamongan dilakukan setiap hari Minggu. Yang ditanam adalah pohon buah-buahan seperti mangga, rambutan dan durian, sebab kalau pohon jati dan mahoni khawatir akan ditebang. Selain memperkuat lereng, mereka juga mendapat manfaat ekonomi.

Selain penelitian Abdul Malik, terdapat 13 hasil penelitian yang seharusnya dipaparkan namun sejumlah pembicara berhalangan hadir. Hasil penelitian ini dibagi dalam empat sesi, yakni bencana dan lokalitas, pengalaman bencana, teologi kontekstual, dan konstruksi sosio-kultural bencana.

Konferensi ini diselenggarakan oleh Program Studi Agama dan Lintas Budaya, yang lebih dikenal dengan singkatan CRCS (Center for Religious and Cross-cultural Studies), Sekolah Pascasarjana UGM. Topik yang diangkat ini merupakan merupakan bagian dari proyek hibah penelitian kompetitif (competitive research grant projects) yang dimulai pada akhir tahun 2008, dan diadakan dalam dua periode. Penelitian ini melibatkan akademisi, peneliti dan aktivis LSM dari berbagai daerah di Indonesia. Para juri berasal dari UGM, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dan Universitas Kristen Duta Wacana.

barata