KABAR ANYAR

"BAHASA GAUL REMAJA INDONESIA"
PIDATO MENYAMBUT DIES NATALIS FIB UGM KE-64

Kehadiran bahasa “gaul” remaja Indonesia pada tahun-tahun terakhir ini sungguh boleh dipandang merupakan suatu kreativitas dari sekelompok anak-anak muda dalam sebuah generasi tertentu. Bahasa itu diciptakan tentu sesuai dengan selera dan kesepakatan dari sekelompok orang yang ingin mempunyai eksis tersendiri dalam berkomunikasi dan bergaul di antara sesamanya. Bahasa yang diciptakan itu memang tetap saja mempunyai dasar pijakan pada bahasa yang sudah ada, seperti bahasa Indonesia, daerah, dan asing, tetapi di dalam pembentukannya, jelas berbeda dengan kaidah bahasa secara formal dan benar. Tentu keberadaan bahasa “gaul” ini tidak boleh dipandang remeh, karena mencerminkan suatu kelompok komunitas yang ingin tetap eksis dan merupakan suatu ragam penggunaan bahasa, di samping bahasa standar (baku).

Bagi sebagian orang, apalagi generasi tua yang tidak terbiasa, akan menganggap keberadaan bahasa “gaul” ini asing dan aneh. Mungkin pula mereka akan menganggap sebagai suatu bahasa “ting penthalit” atau “kacau-balau”. Lebih ekstrim lagi, mungkin ada yang beranggapan bahwa bahasa “gaul” itu bisa merusak kaidah suatu bahasa yang resmi. Tetapi bagi yang memahami tentang perkembangan bahasa, kehadiran bahasa “gaul” itu wajar dan sah-sah saja sebagai bentuk dari perubahan budaya yang dialami oleh sebuah generasi.

Mereka yang belum terbiasa mendengar dan berkomunikasi dengan bahasa “gaul” pasti akan kerepotan untuk mencari makna-makna kata sekaligus menelusuri asal pembentukan kata, dari kata-kata yang termasuk bahasa “gaul” ini, misalnya (1) nyemok, (2) ngokar, (3) suwer takewer-kewer, (4) hot sick, (5) narkoba, (6) duren, (7) sakinah, (8) TTM, (9) STMJ, dan sebagainya. Jika pun kadang menemukan makna kata dalam kamus, tetapi itu sebenarnya bukan yang dimaksud. Dari kata-kata bahasa “gaul” itu ternyata muncul makna baru, setidaknya, kata (1) dan (2), bermakna ‘merokok’, kata (3) hingga (7), bermakna ‘berani sumpah’, ‘sakit panas’, ‘nasi goreng karo bakwan’, ‘duda keren’, ‘sekali kena minta nambah’, dan kata (8) dan (9), keduanya bermakna ganda, (8) ‘teman tapi mesra, teman tapi morotin, teman tapi mesum’ atau ‘teman tidur malem’ serta (9) ‘susu telur madu jahe, salah tingkah malu, sekali teken muncratnya jauh’ atau ‘sholat terus, maksiat jalan’.

Bahasa “gaul” yang sudah menjadi bahasa sehari-hari dari sebagian komunitas remaja Indonesia itu harus dipandang sebagai suatu kenyataan dan hendaknya menjadi kesadaran bagi para ahli bahasa. Bahwasannya bahasa yang baik dan benar itu hanyalah salah satu variasi bahasa tertentu yang digunakan dalam kalangan tertentu, dan untuk tujuan tertentu pula. Di luar dari bahasa baku itu, masih cukup banyak ragam penggunaan bahasa yang di dalamnya menyodorkan persoalan-persoalan kebahasaan yang jauh lebih menarik, lebih rumit, dan lebih menantang.

Demikian, intisari pidato yang disampaikan oleh Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A. dalam rangka Dies Natalis Fakultas Ilmu Budaya ke-64 bertepatan pada 3 Maret 2010 di Gedung Poerbatjaraka FIB UGM, beberapa waktu lalu. Pidato Guru Besar FIB tersebut diberi judul “Bahasa Gaul Remaja Indonesia dan Berbagai Persoalannya”.

Pada kesempatan sebelumnya, Dr. Ida Rochani Adi, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya juga menyampaikan laporannya berkaitan dengan perkembangan FIB selama tahun 2009. Di tahun tersebut, FIB termasuk salah satu fakultas di bidang ilmu-ilmu seni dan humaniora yang termasuk diperhitungkan di dunia internasional. Pada tahun itu UGM ditempatkan pada peringkat 250 kelas dunia oleh lembaga independen The Thimes Higher Education-QS World University Rangkings dan untuk program-program studi Arts and Humanities, FIB UGM ditempatkan di peringkat 111 untuk kelas dunia. Sebuah prestasi yang cukup membanggakan bagi civitas akademika fakultas dan universitas. Sementara di tahun 2009 pula, FIB juga telah menghasilkan 21 artikel ilmiah berstandar nasional, 16 artikel berstandar internasional, 37 laporan penelitian non payung, 4 laporan penelitian payung, dan menerbitkan 13 buku nonfiksi dan fiksi dari para dosen berbagai jurusan.

Dies Natalis FIB ke-64 yang dihadiri lebih dari 150 peserta undangan, mulai dari senat fakultas, guru besar, petinggi fakultas dan jurusan, dosen, alumni, dan mahasiswa ini, juga dimeriahkan dengan beberapa acara lain, seperti: Hari Keluarga (28/2), Seminar (2/3), dan Festival Budaya (3/3) yang menampilkan Pameran Batik dan Arkeologi, Festival Kuliner, dan Pentas Seni Tradisional Dolalak dari Purworejo.

Suwandi