Adat Istiadat

UPACARA ADAT SAPARAN BEKAKAK
AMBARKETAWANG, GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA
(2)

UPACARA ADAT SAPARAN BEKAKAK AMBARKETAWANG, GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA (2)

Upacara Saparan Bekakak sendiri merupakan bentuk tradisi masyarakat Gamping untuk mengenang jasa abdi dalem Sultan Hamengku Buwana I (Pangeran Mangkubumi) yang dengan setia menambang Gunung Gamping kemudian meninggal karena terkena runtuhan Gunung Gamping. Namun ada juga yang menceritakan bahwa abdi dalem Sultan Hamengku Buwana I yang bernama Kyai dan Nyai Wirosuto (Irosuto) meninggal ketika sedang berada di dalam gua di Gunung Gamping. Perlu diketahui bahwa menurut sumber setempat pada masa lalu di Gunung Gamping ini memang terkenal banyak guanya. Anehnya jasad keduanya tidak pernah ditemukan.

UPACARA ADAT SAPARAN BEKAKAK AMBARKETAWANG, GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA (2)

Salah satu pengikut Kyai dan Nyai Wirosuto yang mengetahui bahwa keduanya meninggal karena keruntuhan gua lalu melaporkan hal itu kepada Sultan hamengku Buwana I. Sultan Hamengku Buwana I pun kemudian bersamadi. Dalam samadinya Sultan Hamengku Buwana tahu bahwa yang mengganggu dan menimbulkan korban jiwa atau kematian Kyai dan Nyai Wirosuto itu adalah akibat ulah siluman atau lelembut yang bernama Nyai Poleng. Saat itu Nyai Poleng inilah yang menjadi kepala atau dedengkot dari semua bangsa siluman di kompleks Gunung Gamping. Ia mengacau kinerja Kyai dan Nyai Wirosuto karena keduanya dianggap telah mengganggu ketenteraman dunia siluman atau dunia roh halus di Gunung Gamping. Kecuali itu keduanya dalam menyajikan sesaji ke Gunung Gamping kurang lengkap sehingga Nyai Poleng marah dan akhirnya meminta korban.

UPACARA ADAT SAPARAN BEKAKAK AMBARKETAWANG, GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA (2)

Semadi yang dilakukan oleh Sultan Hamengku Buwana I di sekitar Gunung Gamping itu menginspirasi Sultan Hamengku Buwana I untuk membuat sesaji yang lengkap. Salah satu kelengakapannya adalah Bekakak, yakni boneka yang terbuat dari beras ketan yang dibentuk mirip dengan sepasang pengantin. Akhirnya dengan semadai dan sesaji yang lengkap itu membuat Nyai Poleng merasa kepanasan. Demikian pula semua bangsa roh halus yang menjadi pengikutnya. Akhirnya mereka menyatakan takluk kepada Sultan Hamengku Buwana I. Dipercaya bahwa Nyai Poleng ini kemudian juga ikut berpindah ke Keraton Yogyakarta yang sekarang. Ia dipercayai sebagai penunggu Pagelaran Keraton Yogyakarta.

UPACARA ADAT SAPARAN BEKAKAK AMBARKETAWANG, GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA (2)

Disebut-sebut bahwa Kyai dan Nyai Wirosuto memiliki binatang kesayangan antara lain merpati kucir warna putih, gemak/burung puyuh liar, landak, dan ular. Oleh karena itu pula orang-orang setempat tidak berani mengusik binatang-binatang yang dianggap sebagai kelangenan Kyai dan Nyai Wirosuto ini. Selain itu binatang-binatang tersebut menjadi pertanda bahwa di masa lalu kompleks Gunung Gamping dan sekitarnya menjadi habitat yang aman bagi jenis-jenis binatang tersebut.

UPACARA ADAT SAPARAN BEKAKAK AMBARKETAWANG, GAMPING, SLEMAN, YOGYAKARTA (2)

Upacara Saparan Bekakak Gunung Gamping Ambarketawang telah menjadi agenda rutin wisata budaya Pemda Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kini, kompelsk Gunung Gamping kecuali menyisakan seonggok batu gamping sebagai monumen, juga meninggalkan sisa-sisa petilasan Keraton Ambarketawang. Kompleks monumen Gunung Gamping sendiri telah dilengkapi jalan yang bisa digunakan untuk jogging track. Panjang jalan ini sekitar 120 meter. Kecuali sarana untuk jogging track tempat ini juga akan dilengkapi dengan alat untuk permainan anak-anak. Direncanakan area jogging track akan meliputi panjang sekitar 223 meter.

Tim tembi:
a.sartono
a.barata