KABAR ANYAR
Sangiran
yang sebagian besar masuk wilayah Kabupaten Sragen, Jawa Tengah memang pantas
disebut sebagai sebuah negeri Manusia Purba. Pasalnya, di daerah seluas sekitar
56 km persegi ini, banyak ditemukan berbagai fosil manusia purba, termasuk
hewan-hewan purba daratan maupun lautan. Berbagai fosil kerangka hewan seperti
gajah, kerbau, buaya, rusa, berbagai jenis kerang, banyak ditemukan di daerah
Sangiran. Begitu pula dengan fosil manusia purba Homo Erectus, yang hidup pada
masa jutaan tahun silam secara bertebaran banyak ditemukan di berbagai wilayah
di daerah Sangiran. Maka tidak aneh, jika UNESCO kemudian memasukkan dan
menetapkan Sangiran ke dalam daftar Cagar Budaya (Heritage) Dunia sebagai Situs
Manusia Purba dengan nomor registrasi C.593. Informasi itu bisa terbaca jelas
pada plakat di halaman depan Museum Manusia Purba Sangiran menuju pintu masuk
gedung museum.
Begitu banyaknya fosil manusia
purba, hewan purba, dan biota laut purba lainnya yang tersebar di daerah ini,
kemudian
ditampung
dalam sebuah tempat yang bernama museum dengan nama seperti di atas. Namun
begitu penemuan fosil-fosil purba hingga sekarang masih terus berlangsung, baik
disengaja maupun tidak disengaja. Penemuan itu kadang-kadang ditemukan oleh
penduduk setempat, terkadang oleh penggalian yang dilakukan oleh pemerintah.
Sebagian besar fosil penting dan lengkap memang disimpan di museum tersebut.
Namun kadang-kadang pula, sering terjadi jual-beli fosil oleh oknum hingga
kemudian sampai ke luar negeri.
Menurut berbagai sumber, lokasi
Museum Manusia Purba Sangiran dulunya merupakan aliran lahar Gunung Lawu Purba
yang berusia sekitar 1,8 juta tahun. Maka tidak aneh, jika sekitar daerah itu
dulunya sangat subur dan banyak dihuni oleh manusia purba. Manusia purba yang
menghuni daerah ini diyakini berasal dari daerah Afrika yang menyebar ke
berbagai penjuru belahan dunia, seperti ke Eropa hingga ke Asia Tenggara,
termasuk
daerah Sangiran, Indonesia. Ada beberapa lokasi penemuan fosil manusia purba di
Jawa, termasuk di daerah Trinil dan Ngandong, Jawa Timur.
Museum Situs Manusia Purba Sangiran kondisinya saat ini sudah sangat bagus. Ada 3 Ruang Pamer di museum ini. Masing-masing ruang pamer cukup luas untuk menempatkan koleksi-koleksinya. Ruangan dilengkapi pendingin ruangan dan cahaya lampu yang cukup terang, sehingga sangat nyaman. Berbagai koleksi juga dilengkapi dengan audio visual, termasuk layar sentuh. Sementara bentuk atap bangunan utamanya sendiri berbentuk kerucut dan cukup besar. Dari jarak ratusan meter sangat kelihatan jelas dan megah. Hal itu dialami kru Tembi saat berkunjung ke museum ini beberapa waktu menjelang Tahun Baru 2012, tepatnya 31 Desember 2011 lalu.
Sangat
mudah menjangkau daerah wisata Museum Sangiran. Dari Surakarta berjarak sekitar
17 km ke arah utara. Jalannya sudah bagus, walaupun beberapa tempat saat
memasuki lokasi, jalan agak bergelombang. Sementara jika ditempuh dari kota
Sragen berjarak sekitar 35 km ke arah barat melewati Kecamatan Tanon. Dari sini,
bisa melewati Kecamatan Gemolong atau lurus hingga melewati desa-desa di sekitar
Sangiran. Memang jaraknya lebih dekat melewati desa-desa sekitar Sangiran, hanya
saja jalannya rusak dan bergelombang.
Tiba di Museum Sangiran,
sebelumnya pengunjung harus membeli tiket seharga Rp 3.000/orang di pintu
gerbang masuk. Setelah memarkir kendaraan di tempat parkir yang cukup luas, di
tengah halaman depan ditemukan sebuah patung kepala manusia purba yang cukup
besar bercat hitam. Sementara para pedagang cinderamata (souvenir) dan aneka
jajanan berjajar di
sepanjang
tepi parkiran dan di bawah jalan menuju museum. Untuk menuju Ruang Pamer I,
pengunjung harus menaiki beberapa tangga dan lorong jalan melingkar. Terlihat
jelas di sekitar museum, pemandangan area perbukitan yang cukup hijau di saat
musim penghujan.
Di Ruang Pamer I (Kekayaan
Sangiran) ini banyak dipamerkan aneka fosil purba, baik fosil manusia, hewan,
dan biota laut yang ditemukan di berbagai penjuru di daerah Sangiran ini.
Beberapa foto berukuran sedang dan besar tentang manusia dan hewan purba juga
dipasang untuk mendukung visual penampilan fosil purba. Termasuk foto yang
menggambarkan tata surya Bima Sakti. Juga dipamerkan patung-patung replika
manusia purba di beberapa sudut. Setiap koleksi dilengkapi dengan deskripsi dua
bahasa (Indonesia dan Inggris) yang cukup lengkap, sehingga setiap pengunjung
bisa membaca dan mendapatkan informasi secara detail. Bisa juga pengunjung
memanfaatkan pemandu
museum,
jika hanya hendak mendengar sejarah singkat tentang semua koleksi yang
dipamerkan di Museum Sangiran secara cepat.
Keluar dari Ruang Pamer I, pengunjung menelusuri lorong lagi untuk menuju Ruang Pamer II di sebelah atasnya. Setibanya di ruangan kedua (Ruang langkah-Langkah Kemanusiaan) ini, pengunjung langsung disuguhi sebuah tayangan audio visual dengan suara yang cukup keras dan menggema. Tayangan tersebut menggambarkan terjadinya tata surya, yang dipekirakan jutaan tahun lalu. Biasanya semua pengunjung tertarik dengan tayangan ini, apalagi bagi anak-anak, karena seolah-olah kita dibawa ke alam masa lalu. Tayangan film berdurasi sekitar 5 menit ini akan terus muncul, ketika film telah berakhir.
Masih di Ruang Pamer II ini,
pengunjung bisa melihat berbagai koleksi berkaitan dengan penemuan fosil purba,
termasuk foto-
foto
para tokoh yang berjasa dalam penemuan dan penelitian manusia purba di daerah
Sangiran. Banyak juga foto yang menjelaskan awal mula persebaran manusia purba,
foto-foto gunung sekitar Sangiran, pulau Jawa, dan lain sebagainya.
Untuk menuju Ruang Pamer III (Masa Keemasan Homo Erectus 500.000 Tahun Lalu) yang berada di bagian puncak bangunan kerucut, pengunjung harus kembali menelusuri lorong ke arah atas. Di ruangan ketiga ini, disajikan 3 buah diorama situasi kehidupan manusia di zaman purba. Sebuah diorama yang paling besar menggambarkan secara lengkap manusia purba sedang berburu. Di ruangan ini, seolah-olah pengunjung dibawa ke alam kehidupan masa lalu.
Lelah melihat-lihat koleksi Museum Sangiran, pengunjung bisa kembali turun untuk melihat-lihat souvenir yang dijajakan oleh pedagang di kios-kios. Berbagai souvenir khas Sangiran, seperti kalung, gelang, patung, dan lainnya yang bernuansa fosil ditawarkan di tempat ini. Atau sekadar menikmati sajian makanan dan minuman juga tersedia di tempat ini. Ada juga fasilitas lain, seperti toilet dan musholla di sekitar museum. Sementara fasilitas lain di area Sangiran, seperti gardu pandang, pendopo, dan gedung pemutaran film. Sangiran, memang tempat yang tepat untuk belajar sejarah manusia purba masa lalu sambil berwisata.
Suwandi